Pages

Kamis, 29 Januari 2015

0 Tragedi Charlie Hebdo Bagian dari Operasi False Flag


Dalam perspektif perang asimetris, secara out of the box dapat dibaca bahwa 'Tragegi Charlie Hebdo' cuma false flag operation. Operasi bendera palsu bikinan Barat sendiri. Kenapa demikian, disaat stigma teroris muslim tidak terbukti di mata rakyat Perancis, tampaknya mereka terkejut --- ternyata kaum muslim di Perancis tidak segarang sebagaimana digambarkan oleh media mainstream Barat, bahkan cenderung baik-baik saja.

Mereka mencoba menaikkan kembali 'derajat kegarangan' di Paris melalui 'Tragedi Charlie Hebdo'. Lihat indikasinya, masa ID Card pelaku tertinggal di TKP? Dalam tempo singkat pelaku dapat ditangkap, dll. Jadi teringat peristiwa Bom Boston dulu. 


Polanya sama, 'peristiwa' itu hanya pintu (isue) pembuka guna menarik perhatian dunia, setelah itu akan ada agenda lanjutan. Kalau agenda pasca Bom Boston adalah "radikalisme Islam di Checnya" --- tujuannya penguasaan minyak di BTC yang 'pipeline'-nya melintas antarnegara, nah Charlie Hedbo lain lagi. Tengok saja, setelah agenda yang akan diangkat adalah radikalisme Islam di negara asal si penyerang (ID Card tertinggal), maka silahkan cermati dan simak, negara mana bakal dikeroyok oleh NATO (Perancis, dkk) setelah ini dengan alasan mengejar gerombolan penyerang Charlie Hebdo? Eng ing eeeeeng ....

Mereka ---Barat--- tampaknya trauma menggelar hard power sebagaimana keroyokan militer (42 negara) pimpinan Paman Sam di Irak dan Afghanistan dulu (2001-20012). Selain high cost, perlu restu-restu (resolusi) PBB, juga hasilnya belum tentu sesuai harapan. Ingat! Perang lebih 10-an tahun di Irak dan Afghanistan telah menyedot pundi-pundi keuangan mereka namun hasilnya NIHIL. Krisis pun melanda dunia diawali dari krisis di Amerika dan sekutu.

Subprime mortgage jadi kambing hitam. Maka dibuatkah skenario 'tewasnya Osama' ---- sebenarnya itu cuma "tanda" akan ditariknya pasukan Amerika dan sekutu dari kedua negara karena kalah perang. Luar biasa.

Taliban yang sekelas pesantren di Indonesia mampu mengalahkan tentara profesional dari 42 negara yang tergabung dala NATO dan ISAF? Ada apa sesungguhnya di kedua negara? Makanya kini, mereka banyak menggelar model-model perang non milter melalui paket-paket DHL (demorasi, HAM, lingkungan), atau radikalisme, intoleransi, dan sebagainya.

Maka proxy war semacam ISIS pun digelar di kedua negara terutama Irak. Siapa ISIS? banyak data menyatakan bila ISIS itu ciptaan Paman Sam. Maka dalam perspektif kolonialisme, ISIS adalah bidak catur pengganti Resolusi PBB, agar Paman Sam dan koalisi (kini 44 negara) dapat masuk kembali ke Irak tanpa resolusi, bahkan kabarnya hendak merambah ke Syria via darat.

sumber www.theglobal-review.com

search

YANG NYASAR DI BLOG