Pages

Selasa, 28 Mei 2013

0 Kisah Perang Uhud Pada Zaman Nabi Muhammad Saw.

KISAH PERANG UHUD PADA ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW.

Sumber Gambar dari http://dakwah-islam.org
Perang Uhud terjadi pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 3 H bertempat di kaki bukit Uhud yang terletak di sebelah utara kota Madinah. Kekalahan pasukan kafir Quraisy dalam perang Badar, menimbulan dendam terhadap kaum muslimin. Oleh sebab itu, mereka bertekad untuk mengalahkan dan menghancurkan umat Islam. Agar kekalahan pahit di perang Badar tidak terulang, maka mereka membentuk pasukan besar yang berjumlah 3000 orang. Mereka berasal dari berbagai kabilah, seperti kabilah Quraisy, Tihamah, Kinanah, Bani Al-Harits, bani Al Haun, Bani Al Mustaliq. Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi yang pada waktu itu belum masuk Islam, mrerasa khawatir akan keselamatan jiwa keponakannya, maka ia mengutus seorang kurir untuk memberitahukan kepada Nabi bahwa umat Islam akan mendapat serangan dari kafir.
Nabi segera bermusyawarah dengan para sahabat untuk mangambil keputusan. Sebagai sahabat berpendapat bahwa perang kali ini lebih baik bertahan didalam kota Madinah, agar dapat melindungi anak-anak, kaum wanita dan para lansia. Namun sebagian besar sahabat yang lain menganjurkan lebih baik di luar kota, agar tidak menimbulkan kerusakan total terhadap lingkungan kota, sebab jika pasukan kafir menang, mereka akan menyisir kota Madinah, membunuh para wanita dan anak-anak, merusak bangunan dan tumbuh-tumbuhan, serta merampok harta kekayaan warga kota.
Nabi sebenarnya lebih suka pendapat pertama, namun mayoritas sahabat menyetujui pendapat kedua, maka suara terbanyak yang diambil keputusan, yaitu menghadapi pasukan di luat kota Madinah.
Seribu pasukan dihimpun untuk menghadapi serangan musuh, mereka di berangkatkan menuju leher bukit Uhud. Namun baru saja berangkat, Abdullah bin Ubay seorang munafik Madinah mencoba menghasut sebagian pasukan Islam, sehingga sekitar 300 orang berbelot dan menolak ikut perang. Pasukan muslim hanya tinggal 700 orang.
Setelah sampai di bukit Uhud, Nabi Muhammad segera mengatur strategi dan taktik berperang. Lima puluh orang ahli panah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahir ditempatkan di atas bukit untuk menghadang pasukan kafir yang akan lewat. Rasulullah berpesan kepada mereka agar tidak meninggalkan tempat, apa pun yang terjadi dan dalam kondisi bagaimana pun sampai ada komando berikutnya dari beliau. Pasukan penyerang dan pasukan berkuda ditempatkan di bawah bukit dalam keadaan siaga penuh.
Perang di mulai dengan duel satu lawan satu. Pihak musuh menampilkan empat bersaudara, yaitu Talhah bin Abi Talhah, Usman bin Abi Talhah, As’ad bin Abi Talhah, dan Musami bin Abi  Talhah. Sedangkan dari pihak muslimin hanya menampilkan dua perwira perkasa, yaitu Ali bin Abi Talhah dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Namun keemapt musuh dari pihak kafir itu dapat ditumpas dengan mudah. Talhah dan As’ad terbunuh oleh Hamzah, sedangkan Usman dan Musami tewas di tangan Ali.
Perang massal pun segera berkobar, pasukan muslim berjuang dengan gagah berani, anyak musuh yang terkapar oleh pedang kaum muslimin. Dalm hitungan jam, pasukan kafir meninggalkan medan perang. Melihat keadaan itu, pasukan muslim merasa telah mendapat kemenangan dan mereka ingin segera mendapatkan harta rampasan yang di tinggalkan musuh, sehingga mereka lupa akan pesan Rasulullah agar tidak meninggalkan pos sebelum ada komando. Pasukan pemanah berhamburan ke bawah bukit turut mengumpulkan harta rampasan, sedangkan pada saat yang bersamaan, pasukan pemanah kafir yang di pimpin oleh Khalid bin Walid segera mengisi tempat yang di tinggalkan pasukan muslimin.
Maka dalam waktu sekejap, pasukan kafir yang telah berada dalam posisi strategis dapat menghancurkan kaum muslimin yang sedang berebut harta ghanimah (harta rampasan perang). Pasukan Islam terjepit dan banyak yang berguguran.
Di tengah hiruk pikuk peperangan, muncul kabar bahwa Rasulullah terbunuh. Kabar tersebut berasal dari pihak orang kafir dengan maksud melemahkan mental pasukan Islam. Rasululloh sendiri sebenarnya sedang berperang dan beliau terdesak oleh musuh sehingga terjerembab ke dalam lubang. Namun pasukam Islam yang bertugas melindungi keselamatan jiwa Nabi seperti Ali bin Abi Thalib, Abu Dujanah, Sa’ad bin Abi Waqas dan Umu Umarah (pahlawan wanita yang setia membela Rasulullah) segera sigap menolong beliau. Rasulullah pun dapat terselamatkan dan segera diserukan kepada kaum muslimin bahwa Rasulullah masih hidup.
Perang terus berlangsung hingga datanglah Ubay bin Rhalaf sambil menghunus pedang hendak mencoba membunuh Rasulullah, namun beliau segera sigap mengambil tindakan mempertahanakan diri dengan menghujamkan pedangnya ke tubuh Ubay bin Rhalaf hingga tewas. Itulah kali pertama dan terakhir musuh yang tewas di tangan beliau. Akibat perang yang tak terkendalikan, Rasulullah mendapat luka yang cukup parah di kening dan anggota tubuh lainnya, gigi gerahamnya patah dan banyak mengeluarkan darah.
Peperangan tersebut di menangkan oleh pasukan kafir Quraisy. Kaum muslimin mengalami kekalahan yang cukup parah. Lebih dari 70 oarng gugur sebagi syuhada dan puluhan lainnya mengalami luka berat dan ringan. Sedangkan pasukan kafir segera menarik diri dan beranjak menuju kampung halaman mereka di Mekah.
Dalam perang ini Rasulullah mendapati kenyataan bahwa kafir menyiksa para tentara Islam yang telah tidak berdaya hinga tewas mengenaskan. Hal itu terbukti dari pemeriksaan Rasulullah ternyata ada jenazah kaum msulimin yang hilang telinganya, ada yang ususnya terburai, dan matanya dicukil dengan ujung pedang.
Lebih parah lagi ketika beliau menyaksikan jenazah pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib. Jenazah pama tercinta Rasulullah itu sangat mengenaskan, ususnya terburai, jantung dan limpanya hilang dimakan oleh Hindun binti Jahsyin, istri Abu Sufyan, telinganya hancur, dan matanya dicungkil pedang. Rasulullah menangis meneteskan air mata, seraya bersabda: “Seumur hidupku belum sesedih dan semarah ini. Demi sekiranya nanti Allah memberi kemenangan kepada kita, mereka akan kuperlakukan menurut cara yang belum pernah diperbuat oleh bangsa Arab.”
Bagi Rasulullah saw., Hamzah adalah orang yang paling dihormati dan dicintainya. Dalam hati Rasulullah ingin rasanya membalaskan dendam terhadap orang-orang kafir itu. Namun Allah SWT, menurunkan wahyu dalam Surah An-Nahl: 126-127.
“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar. Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.” (QS. An-Nahl: 126-127)
MUTIARA HIKMAH YANG DAPAT DIJADIKAN PELAJARAN
Kisah Perang Uhud ditulis dalam Surah Ali Imran. Kekalahan di Uhud adalah ujian dari Allah bagi muslim mukmin dan munafik. Memang benar bahwa pasukan muslim hampir saja mampu menghabisi kaum Quraisy ketika kemudian perhatian mereka teralihkan. Ketika tentara muslim melihat para wanita Qurasy mengangkat bajunya sehingga menampakkan gelang pergelangan kaki dan kaki-kaki mereka, mereka mulai berteriak-teriak dan menzalimi mereka. Tanpa peduli akan perintah Nabi Muhammad, mereka meninggalkan tempat jaga mereka dan mengejar wanita-wanita Quraisy. Karena itulah Allah mengijinkan membunuh muslim yang meninggalkan kedudukannya sebagai suatu ujian. Tentara muslim kalah karena salah mereka sendiri.

0 Tehnik Manusia Terbang dalam Pembuatan Piramida Mesir



Melampaui segala bayangan akan keraguan, dari banyak dan beragamnya prestasi dibidang arsitektur yang dibuat oleh ras manusia, sudah pasti Piramida Mesir pastilah masuk dalam daftar teratas dalam hal yang menakjubkan dan bangunan mengagumkan yang pernah dibuat.

Begitu banyak teori yang dikemukakan dalam pembuatan Piramida mulai dari pengangkutan bebatuan dari jarak yang jauh yang digelindingkan menggunakan kayu hingga teori dari penelitian terbaru yang menemukan bahwa bebatuan piramida adalah batu yang dibuat dari tanah liat yang dibakar. Dari banyak kontroversi dan perdebatan mengenai proses pembuatan piramida hingga teori pembangunan piramida berkat bantuan alien, namun teori konvensional tetaplah menunjukkan bahwa piramida dibangun dimasa dinasti tua hingga zaman dinasti menengah, kira-kira dari milenium ke-3 SM hingga kira-kira tahun 1650 SM.
Menurut pengetahuan konvensional bahwa alasan piramida dibangun adalah sebagai makam para firaun (namun hingga kini belum ada ditemukan mumi para firaun didalam piramid sebab banyak firaun mumi nya ditemukan pada kuil-kuil di Mesir).

Pada abad ke-7 M ada seorang bernama Abu al-Hasan Ali al-Mas'udi yang dikenal sebagai Herodotus dari Arab, yang mana sepanjang hidupnya ia telah membukukan serangkaian tulisan sebanyak 30 volume buku tentang sejarah dunia berdasarkan pengalaman pribadinya dalam melakukan penjelajahan dan perjalanan ke daerah-daerah yang jauh dan luas. Bisa dikatakan Al-Mas'udi adalah seorang pengelana yang terampil. Ia menempuh perjalanan ke berbagai belahan dunia mencatat peristiwa bersejarah dan hal-hal unik tentang segala sesuatu disetiap tempat yang ia kunjungi mulai dari Mesir, India, Afrika Timur, Suriah dan Armenia.
Selain itu Mas'udi adalah seorang pelaut cekatan yang melintasi mediterania, laut kaspia, laut merah, dan samudra hindia.Selama ia mengunjungi banyak tempat tersebut ia menuliskan banyak kisah, sejarah dan juga legenda dari para penduduk setempat yang ia kunjungi. Hasil jerih payah kerjanya dalam bentuk 30 volume buku itu secara kolektif telah diterjemahkan dalam bahasa inggris dengan judul "The Meadows of Gold and mines of Gems"
Dari semua banyak pengembaraan dan data yang ia kumpulkan ada satu bagian yang menarik dan mungkin dapat memberikan pencerahan mengenai sebuah misteri.....

Dalam halaman-halaman dari buku tulisannya yang ia selesaikan pada tahun 947 M, atau 9 tahun sebelum kematiannya disaat ia berusia 60 tahun, Al Mas'udi menceritakan bahwa dalam kisah-kisah arab awal ada sebuah cerita menarik mengenai proses penciptaan Piramida dan tidak ada hubungannya dengan teknik konvensional dalam pembuatan Piramida tersebut.
Sebaliknya Mas'udi mencatat selama eksplorasi dan penelitiannya dalam mengumpulkan bukti dari kisah tersebut bahwa Piramida seperti apa yang kita saksikan saat ini mungkin proses pembuatannya adalah seperti apa yang kita sebut saat ini sebagai proses dari Levitasi (Levitation).

Cerita menakjubkan yang berhasil di kuak oleh Mas'udi ini disebutkan olehnya bahwa :"Saat membangun piramida, para pembangun piramida itu secara hati-hati meletakkan apa yang digambarkan sebagai sebuah papyrus magic ditepi bawah dari sebuah batu raksasa yang akan digunakan dalam proses konstruksi kemudian satu persatu batu tersebut diberi kejutan (listrik? -red) oleh sesuatu benda aneh dan sedikit misterius yang digambarkan hanya seperti sebuah batang logam. Dan batu tersebut perlahan-lahan mulai naik ke udara dan seperti tentara yang berbaris bergerak lambat, secara metode, sebuah susunan batu beberapa kaki diatas susunan batu yang telah tersusun yang dikelilingi kedua sisinya oleh dua batang logam misterius tersebut.

Pada ketinggian sekitar 150 kaki, Al Mas'udi mencatat batu-batu raksasa bergerak maju dan biasanya bergerak dengan sangat lembut diudara dikontrol oleh pemegang batang logam misterius tersebut untuk memastikan bahwa batu-batu raksasa itu tetap berada pada jalurnya sebelum akhirnya dengan sangat lembut mendarat dibagian atas dari bebatuan lainnya yang telah tersusun atau menjadi dasar dari piramida.
Pada poin ini, proses selanjutnya berulang untuk bebatuan lainnya, bebatuan diberi kejutan lagi, naik ke permukaan dan sekali lagi bergerak kearah yang diinginkan pada ketinggian 150 kaki atau lebih dan itu terus dilakukan hingga semua batu mencapai tujuan yang diinginkan. Lalu dalam sebuah proses yang jauh lebih kompleks bebatuan tersebut dikejutkan/dipukul lebih banyak dan kali ini mereka akan melayang lebih tinggi diudara kemudian ketika mencapai pada titik yang diinginkan mereka dengan hati-hati dan dengan kemudahan yang luarbiasa meletakkan pada tempatnya satu persatu hingga piramida tersebut selesai.

Skenario pembuatan piramida tersebut sungguh menakjubkan apabila itu adalah kenyataan yang sebenarnya, mungkin ada juga kalangan yang mentertawakan pernyataan yang seperti sangat menakjubkan ini, Namun..mungkin saja kisah kuno menceritakan kurang lebih tentang sebuah kebenaran yang fantastis, sebuah teknologi dan pengetahuan yang telah lama hilang dari para pendahulu kita.

Tempat-tempat lainnya yang bangunannya terbuat dari bebatuan yang luar biasa besarnya adalah :
Quote:


- Kuil Jupiter di Baalbek, Lebanon terdapat 3 blok batu yang sangat luarbiasa besarnya yang pernah digunakan dalam struktur bangunan yang dibuat oleh manusia, setiap blok batu tersebut beratnya 1000 ton! tidak ada satupun super crane yang ada di zaman sekarang yang mampu mengangkat batu seberat itu.

- Tidak jauh dari kuil Jupiter tersebut terdapat sebuah patung bernama Hajar el Ibla, patung seorang wanita hamil yang memiliki berat 1200 ton yang membutuhkan 16.000 orang hanya untuk menariknya.

- Di Tiahuanaco Bolivia, diketinggian 13000 kaki diatas permukaan laut berdiri sebuah monumen yang disebut sebagai Puerta del Sol atau "gerbang matahari" memiliki gerbang berukir yang beratnya 10 ton dan bagaimana bebatuan tersebut bisa hadir dilokasinya sekarang masih tetap menjadi misteri.

- Nan Madol, dianggap sebagai Machu Pichu nya Pasifik adalah lokasi reruntuhan besar sebuah kota kuno di pulau Pohnpei ibu kota dari federasi negara Mikronesia, dibangun sekitar tahun 200 SM yang terbuat dari tumpukan ratusan batang batu yang masing-masing panjangnya 18 kaki dan diameternya beberapa kaki, bebatuan tersebut ditumpuk seperti kayu bakar, panjang dindingnya sekitar 40 m dan tebalnya 18m, setiap blok batu memiliki berat 2.5 ton bagaimana mereka dipindahkan dari sumber bebatuan hingga ke tempatnya masih misteri.
Apakah manusia dizaman dahulu kala telah mengenal teknik levitasi? bisa saja teknologi akan hal tersebut musnah hilang tanpa ada catatan bagaimana cara untuk melakukannya.

0 Sejarah Pasukan Hantu Maut Indonesia Pada Agresi Militer di Yogyakarta

Pasukan Hantu Maut bukanlah makhluk halus dari alam lain yang membuat bulu kuduk merinding. Pasukan Hantu Maut adalah pasukan gerilyawan Republik Indonesia yang berasal dari pemuda kampung Pujokusuman, Brontokusuman, Prawirotaman dan Karang Kajen Yogyakarta. Pasukan ini ditugaskan untuk melawan pasukan NICA Belanda di Yogyakarta pada waktu Clash II (Agresi Militer Belanda kedua).



Mungkin tidak banyak orang tahu Ndalem Pujokusuman adalah bekas markas perang. Kebanyakan orang hanya tahu bahwa Ndalem Pujokusaman adalah tempat berlatih tari.

Berawal dari semangat juang 30 orang pemuda Pujokusuman yang bersepakat dan berikrar, jika sampai Belanda masuk dan menduduki kota Yogyakarta mereka bersama-sama akan keluar kampung Pujokusuman untuk membentuk pasukan guna melawan dan mangusir penjajah Belanda. GBPH Poedjokoesoemo yang merupakan putra Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, akhirnya membentuk Pasukan Hantu Maut.


Pasukan Hantu Maut ini dibentuk setelah Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengadakan serangan ke kota Yogyakarta yang kedua pada tanggal 9 Januari 1949. Hantu Maut sendiri berarti pasukan perlawanan sebagai hantu yang akan memberi dan menyebarkan maut bagi tentara pendudukan Belanda.

Pasukan Hantu Maut ini awalnya bernamakan pasukan gerilya Samber Gelap dengan modal tujuh pucuk senjata yang merupakan hasil rampasan ketika rakyat Yogyakarta melucuti senjata pasukan Jepang pada tanggal 7 Oktober 1948 di Kota Baru. Sebagian pemuda dari kampung Keparakan Lor dan Keparakan Kidul turut bergabung ke dalam pasukan Samber Gelap. Anggota pasukan Samber Gelap kemudian disebar masuk ke kota untuk mengambil dan mencari senjata-senjata yang masih tertinggal di kota dan berhasil mendapatkan 11 pucuk senjata.


Akhirnya pemuda-pemuda dari kampung Brontokusuman, Prawirotaman, dan Karang Kajen mulai menggabungkan diri pada pasukan Samber Gelap. Dengan bergabungnya pemuda-pemuda tersebut, maka dibuatlah kesepakatan untuk mengganti nama pasukan yang berseragam kaos oblong hijau dan celana putih itu menjadi Pasukan Hantu Maut.

Pada tanggal 29 Juni 1949, Pasukan Hantu Maut mendapat tugas untuk menjaga keamanan dan ketertiban di sebelah utara rel kereta api (stasiun Tugu) samapai batas kota sebelah utara. Setelah pemerintahan kembali pada pemerintahan sipil, maka pasukan Hantu Maut yang dulunya yang telah dimiliterisasi diberi kesempatan untuk kembali ke instansi, sekolah atau bagi yang meneruskan ke pendidikan militer dan sudah lulus tes maka akan ditempatkan di Batalion yang sudah ditentukan dan bagi yang tidak lolos tes akan dikembalikan kepada masyarakat dengan surat penghargaan.


Perang sudah berakhir. Indonesia sudah mulai membangun dirinya lagi. Kini, para mantan anggota pasukan Hantu Maut bersama pejuang-pejuang lainnya mendirikan organisasi dengan nama Kerukunan Keluarga Pejuang Eks SWK 101 WK III Yogyakarta. Organisasi ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan dan kekeluargaan untuk gotong royong, memikirkan para anggotanya yang masih memerlukan bantuan.

0 Mengenal Sejarah Kitab Talmud

talmud
BANGSA Yahudi memang sejak dahulu kala bahkan ribuan tahun yang lalu sudah berulang kali merusak kitab suci yang diwahyukan oleh Allah swt kepada mereka. Bermula dari Taurat, Injil, dan mereka berusaha untuk merusak kitab suci umat Islam, Al-Quran. Tetapi untuk yang terakhir ini mereka tidak akan pernah berhasil sedikit pun karena Zat yang Maha Kuasa yang akan menjaganya dari segala tangan-tangan jahat sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al-Hijr:9.
Studi komprehensif tentang Yahudi dan Talmud masih sedikit, masih diperlukan uraian faktual dan analisa yang besar porsinya untuk mengenal musuh bebuyutan kita itu, menurut Muhammad Husain Haikal, umat Islam baru menseriusi polemik Yahudi setelah terjadinya perang tahun 1967. Dan untuk mengetahui karakter bangsa Yahudi ini, kita harus lebih dahulu mengenal kitab suci mereka, Talmud. Sebuah kitab suci yang sangat dibanggakan oleh manusia-manusia yang menyebut dirinya sebagai Bangsa Pilihan Tuhan.
Talmud berarti ajaran atau pengetahuan, derivasi dari kata laumid dalam bahasa Ibrani yang artinya pelajaran, ada yang mengatakan pengajaran dengan perantara kitab suci, dan setelah pertengahan abad kedua maeshi ditetapkan Talmud sebagai kitab yang berisi hukum-hukum syariat kaum Yahudi.[1]
Pada prinsipnya kitab Talmud terbagi dalam dua bagian: Pertama, Mishnah sebagai naskah asli (Matan) adalah kepingan-kepongan udang-undang yang dibuat oleh bangsa Yahudi untuk kepentingan mereka sendiri, guna melengkapi kitab Taurat (Perjanjian Lama). Kitab Mishnah ini disusun sekitar tahun 190-200 SM oleh seorang bernama Judah Hanasi, kira-kira 1 abad setelah Titus dari Romawi menghancurkan Haikal (Kuil Yahudi).
Kedua, Gemara yang tersusun atas Gemara Jerussalem (Palestina) yang berisi rekaman diskusi para tokoh agama (Hakhom) yang ada di Palestina, khususnya para tokoh agama jebolan Thabariyah, saat mereka menafsirkan nash-nash kitab Mishnah. Gemara Jerussalem ini selesai dikodifikasikan pada sekitar abad ke IV Masehi. Sementara Gemara Babilon adalah hasil rekaman penafsiran MIshnah oleh para tokoh agama Yahudi di Babikonia, penyusunannya selesai sekitar tahun 500 Masehi.
Mishnah dengan tafsir Gemara Jerussalem disebut dengan nama “Talmud Jerussalem”, sedangkan Mishnah dengan tafsiran Gemara Babilon disebut“Talmud Babilon”, keduanya sejenis. Mishnah sendiri adalah kodifikasi Undang-Undang Lisan (Oral Law atau Oral Tradition) yang pindah dan beredar dari mulut ke mulut para Hakhom sejak lahirnya gerakan Pharisi. Undang-undang lisan ini disusun menurut kehendak para Hakhom itu sendiri. Gerakan Pharisi ini mencapai puncak aktifitasnya pada zaman nabi Isa u, yang kemudian melahirkan suatu aliran destruktif yang melandasi gerakan Pharisi di kemudian hari. Isa Al-Masih, Nabiyullahmengutuk gerakan kaum Pharisi.[2]
Dalam muqaddimah “Tafsir Mishnah”, filosof Yahudi Maimonides telah menuliskan definisi Mishnah sebagai berikut:
“Sejak dari guru kita Musa sampai pada Hakhom kita yang suci Judah Hanasi, para ulama belum pernah bersepakat tentang prinsip ajaran keyakinan yang harus diajarkan secara terang-terangan atas nama “Undang-Undang lIsan”. Bahkan setiap Ketua Mahkamah, sebagai Nabi pada setiap generasi, selalu membuat catatan sendiri berdasarkan apa yang pernah didengar dari para tokoh sebelumnya, yang kemudian disampaikan secara lisan kepada umatnya. Jadi setiap ulama menyusun kitab sejenis yang sesuai dengan tingkat kemampuanyyan masing-masing. Jika karya ulama itu cukup berbobot sebagai tafsir kitab Taurat dan Undang-Undang Lisan (yang tertulis itu), maka karya tersebut bias dikukuhkan oleh SANHEDRIN yaitu Mahkamah Tertinggi Yahudi. Demikianlah perkembangannya sampai pada masa Hakhom. Yahudi yang suci- Judah Hanasi, sebagai orang pertama yang menghimpun ajaran hukum, keputusan-keputusan serta uraian undang-udang yang berasal dari Musa –Guru utama kita yang harus ditaati oleh setiap generasi.[3]

Pertumbuhan Mishnah
Mishnah dalam bahasa Ibrani berarti: Ma’rifat atau Learning, juga disebut sebagai Undang-Undang Kedua (Second Law) sesudah Taurat[4]. Bangsa Yahudi berkeyakinan bahwa Mishnah berasal dari wahyu yang dturunkan kepada Nabi Musa di Thur Sinai. Dikisahkan oleh Hakhom Levi ben Chama berasal dari Simon ben Lakish –sebuah ayat yang katanya sebagai tafsiran dari Taurat, “Kau akan kami beri Lah Batu yang telah kami tulis di atasnya Undang-Undang dan Wasiat, untuk kau ajarkan kepada mereka (Exodus 24:12).
Yang dimaksud dengan Lauh adalah sepuluh wasiat (Ten Comandements); Undang-Undang yang dimaksud oleh ayat di atas adalah Undang-Undang tertulis, sedangkan Wasiat adalah Mishnah. “Yang kami tulis” berbarti yang ditulis para Nabi dari berbagai kitab suci –yang dikutip oleh kaum Yahudi- “untuk kau ajarkan” mempunyai arti kitab Gemara. Semua ajaran tersebut telah diberkan kepada Musa di Thur Sinai.
Jelaslah bagaimana para tokoh agama Yahudi iru telah menipu umatnya. Betapa mereka telah membedakan antara Lauh Bati dengan undang-undang tertulis (padahal keduanya adalah satu). Kemudian mereka mencampur adukkan antara Lauh dan Wasiat, serta menganggap bahwa Lauh itu adalah wasiat yang sepuluh, sedangkan wasiat itu adalah Mishnah. Mereka juga membohong umat dengan mengatakan bahwa kalimat “untuk kau ajarkan” bukannya ajaran Taurat tetapi apa yang diajarkan dalam kitab Gemara (mereka menganggap kitab tersebut lebih penting dari seluruh kitab yang ditulis oleh seluruh kitab yang ditulis oleh para pembesar agama Yahudi, masalah ini akan diuraikan di belakang nanti). Mereka juga telah menafsirkan “yang Kam tulis” bahwa sebyeknya kembali kepada para Nabi, padahal yang dimaksudkan adalah Tuhan.
Orang-orang Yahudi telah menambahkan, bahwa Mishnah berasal dari Musa dan telah berpindah-pindahselama 40 generasi sampai Judah Hanasi yang suci. Secara hukum bangsa Yahudi tidak dibenarkan menuliskan (membukukan) ajaran tersebut, selama kuil mereka masih berdiri sebagai Markas Besar Yahudi. Kitab Yahudi yang terpenting menyerupai Mishnah adalah kitab karya Hakhom Eliezer ben Jacob yang bernama Braitha. Kitab ini dianggap sebagai pasangan kitab Mishnah, disebabkan 102 undag-undang dari hukum syariat Talmud adalahyang ditulis oleh Eliezer ben Jacon, walaupun isinya bertentangan dengan Mishnah.
Pembahasan Mishnah
Mishnah terdiri dari 6 pembahasan yang bernama Sidarim yang berarti undang-undang yang bersifat perintah, sebagai berikut:
  1. Zeraim, berisi pembahasan mengenai masalah pertanian yang terdiri atas 11 Bab atau traktat.
  2. Moed, meliputi masalah lebaran dan puasa, terdiri atas 12 Bab.
  3. Nashim (wanita) yang memuat masalah undang-undang perkawinan, talak, nadzar dan yang bernadzar. Terdapat 7 Bab di antaranya “Abudah Zarah” yang artinya “Mengabdi pada Berhala”, jelaslah sudah melalui pokok pembicaraan ini bahwa kaum Yahudi mempunyai hubungan dengan animesme.
  4. Nezekim (darurat) berisikan undang-undang perdata dan pidana, sebanyak 10 Bab.
  5. Kodashim (semua yang dikuduskan), tentang peraturan sembahyang dan penyembahan kepada Tuhan, sebanyak 11 Bab.
  6. Toharoth (mensucikan), peraturan tentang kesucian dan najis, terdiri dari 12 Bab.
Isi keseluruhan kitab Mishnah ini adalah 63 Bab yang teruarai dalam pasal-pasal.
Talmud kadangkala juga disebut “Shash” sebagai singkatan dari kata Ibrani“Shisash Sedarin” yang artinya “Enam Hukum”. Sebagai pendamping kitab “Enam Hukum” ini adalah kitba Talmud mini (Minor Tractates) yang isinya sebagai berikut:Sefer Torah, Mezuzah, Tafilin, Tzitzith, Abadin, Kuthim dan Gerim. Selain itu masih ada 6 buah Bab lagi dalam kitab Talmud gaya baru yaitu; Aboth de Rabbi Nathan, Soferim, Semahoth, Kallah, Derech Eretz Isarel dan Derech Eretz Zuta.
Masih terdapat pula kitab mirip dengan Talmud, yaitu kitab yang bernama Midrash. Kitab ini berisi dongeng-dongeng dan hukum yang diciptakan oleh para Hakhom setelah penyusunan Talmud. Para Hakhom itu khawatir jangan sampai dongengan dan hukum yang diciptakan mereka itu tercecer dan hilang, maka mereka terpaksa membukukannya dalam kitab Midrash ini. Padahal mengabadikan Talmud sendiri membutuhkan waktu lebih dari seribu tahun.[5]

Para Arsitek Mishnah
Hakhom Akiba menyusun dan mengkodfikasikan kitab Mishnah, menyusul kemudian muridnya, Meir yang melengkapi Mishnah dan menyederhanakannya. Para pembesar Hakhom telah pula merintis penyusunan Mishnah, masing-masing menurut selera masing-masing, sampai pada Judah Hanasi yang berhasil mengumpulkan seluruh Mishnah yang ada dan menjadikannya satu kitab Mishnah yang standart. Judah Hanasi sukses menghimpun semuanya itu, terutama dalam menukil karya Meir.
Para ulama yang ikut serta dalam penyusunan Mishnah sejak matinya Hillel tahun 10 Masehi hingga selsainya penyusunannya sekitar tahun 200 Masehi disebut dengan nama Tanna’im[6], sedangkan para ulama yang terlibat dalam penyusunan tafsir utama “Gemara”, disebut dengan Amoraim. Mereka yang menambah penafsiran Talmud pada abad ke enam dan ketujuh, dinamakan Saboraim yang berarti cendekiawan (reasoners). Para Hakhom yang menafsirkan Talmud dinamakanGeonim, apabila mereka termasuk tokoh golongan Yahudi, sebutan untuk mereka adalah Posekim (penentu/desiders).
Ada suatu kekhilafan, apakah Judah Hanasi yang menghimpuan kitab Mishnah ini ataukah ilmuan (Saboraim) pada abad keenam? Menurut catatn kaum Yahudi, telah disepakati bahwa Judah Hanasi sebagai penghimpun kitab Mishnah, sedangkan pendatang berikutnya hanyalah sebagai penyunting dan penafsir.
Hukum-hukum dalam kitab Mishnah pada umunya majhul masdarnya, dianggap sebagai hukum yang bisa diterima, mungkin berasal dari pendapat hukama orang yang arif lagi bijaksana Sages (Hachamim), para guru. Pandangan para Hakhom dianggap lebih utama apabila terjadi suatu khilaf atau perselisihan dalam suatu masalah.
Bahasa kitab Mishnah adalah Ibrani Baru (Neo Hebrew) yang sudah dipengaruhi bahasa Yunani dan latin. Edisi terbaik kitab Mishnah adalah yang dicetak di Roma dan diterbitkan di Wilno, ibu kota Polandia Utara. Pada kitab Mishnah terbitab Frankrut, tahun 1927, telah ditambahkan suatu lampiran untuk kata-kata sukar, olehH.J Kassowsky. Sedangkan Mishnah yang diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh H. Dauby, terbit di Oxford pada tahun 1933.
Ada sebuah kitab penting lainnya lagi, sejenis Mishnah yaitu Braitha, berisikan ajaran para ulama Tanna’im yang hidup sesudah masa Yudah Hanasi sang penghimpun Mishnah. Untuk membedakan kitab Mishnah karya Yudah Hanasi dengan karya para ulama Tanna’im itu (Braitha), maka karya Yudah Hanasi diberi nama Mathnithan(Mishnah kami, Our Mishnah).[7]
Gemara artinya Pelengkap (Completion), penulisannya diawali oleh dua orang putra Yudah Hanasi yaitu Hakhom Gamaliel dan Hakhom Simeon. Kitab ini kemudian disusun kembali oleh Hakhom Ashi, disebuah kota dekat sungai Eufrat, Sura, dari tahun 365 sampai 425 Masehi. Kitab ini akhirnya diselesaikan penulisannya olehHakhom Akino (disebut juga sebagai Rabina). Penutup kitab ini ditulis oleh Hakhom Jose, yang pada khir hayatnya mendapat gelar dari bangsa Yahudi sebagai Pemberi Perintah (Dictator), sekitar tahun 498 Masehi. Para ulama yang mengikuti jejak langkah Hakhom Jose ini diberi gelar sebagai Pencetus Ide (Opinionost), mereka dianggap sebagai sumber hukum dari karya sebelumnya. Mereka jugalah yang kemudian menurunkan para ulama kenamaan (Sublime Doctors). Sesudah masa para ulama ini, lahirlah kemudian masa para Hakhom biasa yang sekarang disebut sebagai para  Rabbi.

Sanhendrin
Dalam bahasa Ibrani kata ini berarti Mahkamah Tertinggi. Tentang lembaga ini tercantum dalam Bab IV kitab Mishnah (Nizkin) yang membahas kedudukan Mahmakah Tertinggi Yahudi, prinsip dasar dan Anggaran Dasarnya. Bab ini terbagi dalam 11 pasal, setiap pasalnya membahsa kemungkinan wewenang Mahkamah Tertinggi Yahudi ini untuk menelorkan berbagai hukum dan kemungkinan ikut campurnya lembaga ini dalam kehidupan keagamaan bangsa Yahudi[8]. Samuel Krauss dalam sebuah bukunya menyamakan Sanhendrin ini dengan laporan Hakim. Ia mengatakan:
“Urgensi dari pasal ini berkisar tentang Yurispudensi Mahkamah Tertinggi Yahudi (Jewish Synhendrion) yang dianggap sebagai cuplikan akhir kehidupan pemerintahan Yahudi. Dan pasal ini mendapat perhatian yang besar sekali dari para peneliti, karena hal ini menyangkut hidup matinya banga Yahudi.[9]
Talmud Yerussalem (Palestina)
Kitab ini juga dinamakan Talmud (atau Gemara) Tanah Israel-Eretz Israel, atau juga sebagai Talmud Bani Ma’ariba (Maghrib). Selesai dihimpun pada tahun 400 Masehi, setelah selesai melalui suatu proses yang ketat oleh Ursicinus pada tahun 351 di Palestina. Penulisan Talmud Jerussalem ini didorong oleh keresahan bangsa Yahudi akan kemungkinan hilangnya undang-undang tak tertulis yang tersembunyi itu.[10]
Sebenarnya yang berusaha untuk mengabadikan Talmud Yerussalem adalah ulamaCaesarea bukannya para ulama dari Jerussalem sendiri. Digunakannya nama Jerussalem hanyalah sebagai kiasa saja untuk mewakili seluruh bagian, sebagai pimpinan para ulama yang mengbadikan Talmud ini adalah Hakhom Jochanan.
Talmud Jerussalem –seperti yang ada sekarang- hanyalah terdiri dari 6 bab –termasuk di dalamnya pasal Niddah pada bab keenam. Pada zaman Musa bin Maimun (Maimonides) Talmud Jerussalem hanya terdiri dari 5 bab, sedangkan 1 bab yang terakhir ditiadakan. Talmud jerussalem ini pertama kali dicetak tahun 1522-1523 di Venezia, Italia. Kemudia terbit cetakan kedua di Cracow, Polandia, sekitar tahun 1602-1605 berikut dengan tafsir dan komentar sehubungan dengan meningkatnya perhatian terhadap Talmud di negeri itu. Edisi Cracow ini dicetak ulang di Krotoschin pada tahun 1886. Diikuti kemudian dengan diterbitkannya Talmud Jerussalem edisi Zhitomir pada tahun 1860-1867. Meyusul pula terbitan Pioterkievsekitar tahun 1899-1900 dan edisi Roma, di kota Wilno pada tahun 1922. Talmud Jerussalem edisi Roma ini dilampiri pula dengan tafsirnya yang dicetak pada tahun 1929 dengan nama Tashlum Yerushalmi. Di kota Leipzig wilayah Jerman pada tahun 1925 terbit pula Talmud Jerussalem edisi Venezia yang bergambar, kemudian disusul dengan terbitan Berlin pada tahun 1929.
Talmud Jerussalem Versi Baru
Redaksi Ensiklopedia Umum Yahudi telah menyatakan bahwa dalam periode terakhir ini, Talmud Jerussalem banyak mengalami penggusuran yang disebabkan oleh dua kemungkinan:
  1. Para editor terdahulu teledor atau lalai tidak mencantumkan beberapa pasal (Scibal Ommisions)
  2. Pemalsuan yang disengaja (Deliberete Falsification)
Kami (yaitu penulis: Dhafrul Islam Khan) tidak dapat menerima alasan yang pertama, yaitu karena keteledoran pada editor maka Talmud Jerussalem berubah dalam terbitan terakhirnya. Kami menyakini bahwa para ulama Yahudi sendiri yang melakukan pemalsuan (penggusuran) itu, disebabkan bangkitanya amarah penduduk Kristen Eropa yang mengutuk bangsa Yahudi. Kemarahan penduduk Kristen Eropa ini muncul setelah mereka membaca kitab-kitab Yahudi  yang sangat anti-kristen.
Mengapa kami tidak menerima alasan yang pertama, juga disebabkan adanya kenyataan bahwa kitab Talmud yang lama (sebelum  terbitnya kitab Talmud versi baru abada ini) telah mengalami puluhan kali cetak ulang di abad pertengahan. Kitab Talmud yang orisinil ini –sejenis versi Venezia-, akhirnya dicabut peredarannya oleh gereja.
Redaksi Ensiklopedia Umum Yahudi itu sendiri menyatakan: “Nash Talmud Palestina versi baru itu sebenarnya semrawut. Para editornya bertindak tidak teliti dalam menukil arti kata-kata yang sulit, disebabkan gaya bahasa Talmud yang sangat pelik. Maklumlah, Talmud bukanlah karya tulis biasa. Problem teks asli ini malah memperbanyak kesalahan para editor itu, seperti ketika mereka menemui kata-kata serupa yang berulang-ulang, hilangnya beberaapa huruf, atau bahkan melompati beberapa baris dikarenakan mereka tidak memahami slogan-slogan yang tertulis dalam Talmud”.[11]
Talmud Palestina tertulis dalam bahsa Ibrani atau Arami Barat, keseluruhan terdiri dari kurang lebih 750 ribu kata. Kitab ini 15 persennya berisikan Hanggada, yaitu kisah dongengan dan kisah-kisah Yahudi yang khas. Dongengan inilah yang menjadi dasar kisah-kisah Israiliyat dalam buku-buku yang ditulis oleh ulama Islam.
Talmud Babilonia
Setelah meninggalnya Judah Hanasi, para ulama Yahudi mendapatkan banyak dari karya-karyanya yang belum diabadikan dalam kitab Mishnah. Naskah Talmud Babilonia dihimpun berdasarkan Mishnashnya Judah Hanasi beserta tafsir yang ditulis oleh Hakhom Abba Areka[12] di Sura. Kitab-kitab yang terpenting dari karya Hakhom Abba Areka adalah Tosefta yang memuat Haggadah yang dijadikan sumber hukum.
Setelah hasil diskusi yang telah disepakati oleh para Hakhom itu terkumpul, maka orang yang pertama kali berusaha membukukan Talmud Babilonia ini adalah Ashiyang wafat pada tahun 427 Masehi, dengan bantuan Rabina. Penulisan Talmud Babilonia ini bertujuan agar bangsa Yahudi memiliki sebuah kitab undang-undang yang standart yang dapat digunakan sebagai pegangan untuk dipelajari para siswa Yahudi.
Hakhom Rabina Bar Huna, yang wafat pada tahun 499 Masehi merampungkan karya mendiang Ashi yang belum selesai. Sedangkan Hakhom Saboraim sekitar abad ke 6 dan ke 7, telah melakukan peletakan dan dasar-dasar tafsir pada naskah milik Rabina serta menambahkan satu bab baru tentang berbagai masalah. Dan perlu diketahui bahwa Kuil Yahudi (Jewish Temple) atapun Mazhab Hakhom tak pernah ada sebelumnya kecualin pada zaman perbudakan di Babilonia. Dengan ini maka selesailah problema pendirian Haikal (Bet Hakenesset). Jelas sekali nama ini menjurus pada kehendak untuk mendirikan kuil-kuil yang sama pula tujuannya saat para ulama Yahudi ketika membukukan Talmud.[13]

Pencetakan Talmud Babilonia
Beberapa bab dari Talmud Babilonia telah dicetak pad tahun 144, sedangkan edsi selengkapnya dari Talmud ini  diterbitkan di Venezia sekitar tahun 1520-1523. Naskah yang dicetak di Bazel terbit di bawah pengawasan gereja Katolik dan mengalami banyak revisi dan koreksi. Sementara naskah Talmud terbitanAmsterdam tahun 1644-1648, tidak banyak mengalami perubahan walaupun tunduk pada pengawasan gereja Katolik. Talmud yang paling orisinil adalah  edisi Romanyang dicetak di Wilno pada tahun 1886 sebanyak 20 jilid. Edisi paling mewah dari Talmud Babilonia adalah terbitan Stack, tahun 1912, berasal dari naskah yang dipersiapkan di Munich pada pertengahan abad ke 14.
Redaksi Ensiklopedia Umum Yahudi menjelaskan: “Penyebab tiadanya manuskrip asli dari Talmud Babilonia itu adalah fanatisme ekstrim gereje Kristen pada abad pertengahan yang sering melakukan pembakaran missal berpuluh gerobak yang berisikan kitab Talmud atau manuskripnya”.Terjemaha Talmud Babionia yang asli pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Soncino, London. Abraham Cohin telah menerjemahkan kitab Beracoth di Inggris pada tahun 1921. Edisi ringkasan Talmud Babilonia ini telah terbit dalam berbagai bahasa seperti Latin, Perancis, Italia, Rusia, Yiddi dan bahasa-bahasa lainnya. Edisi baru Talmud Babilonia merangkum artikel-artikel pendek yang dimasukkan dalam bagian terakhir bab ke IV (Nizikin). Talmud ini terdiri dari 2,5 juta kata, sepertiga bagiannya berisi Haggadah, sedangkan sisanya adalah Hallakhah (Hukum-hukum).
Artikel ini adalah terjemahan dari buku Talmud Tarikhuhu wa Ta’alimuhu karangan Zhafrul Islam Khan yang dicetak di Beirut tahun 1972.

[1] Talmud wa Suhyuniyyah, oleh As’ad Zaruq, Kairo, maktab albahts, 1970, hal.87
[2] Kaum Pharisi adalah suatu sekte Yahudi yang lahir menjelang kedatangan nabi Isa u, dikenal sebagai kelompok yang sangat taat melaksanakan tata cara (ritus) dan upacara keagamaan berdasarkan undang-undang tertulis (Taurat) dan diketahui sebagai kaum yang sangat memaksakan keyakinannya tentang keshahihan (validitas) penafsiran (Undang-Undang Lisan) mereka berkenaan dengan hokum-hukum.
[3] Jelas sekali apa yang disebut oleh Musa ben Maimun (Maimonides) bahwa para ulama Yahudi belum pernah sepakat tentang masalah ini.
[4] Kanzul Marshud fi Qawaid Talmud, hal.1:29
[5] (Hakhom) D.A. Fabian, The Babylonian Talmud, hal 5
[6] Tanna’im artinya “Guru”, gelar yang diberikan khusus bagi ulama bangsa Yahudi setelah kematian Hillel dan Shamai, yaitu pada tahun ke 10 SM sampai menginggalnya Judah Hanasi, sekitar tahun 200 M. Jumlah ulama Tannaim mencapai 200 orang ulama Yahudi, sebagian besar bergelar Hakhom yang juga berarti guru atau orang bijak. Jika seorang ilmuan Yahudi itu menjabat sebagai Paderi di kuil mereka, maka ia diberi gelar Rabbi yang berarti guru kita. Sementara Amoraim berasal dari kata Amar yang artinya “Berbicara”, sebutan ini diberikan kepada para penafsir atau pembicara.
[7] Strack Herman L, Introduction to the Talmud and Midrsah, Philadelphia, 1945, hal.4
[8] Kraus, Samuel, Dr. The Mishnah Treatise Sanhedrin, Leiden, 1909 (Semitic Studies Serie-XI), hal V-VI
[9] Kraus, Samuel, Dr. The Mishnah Treatise Sanhedrin, Leiden, 1909 (Semitic Studies Serie-XI), hal VII
[10] Sesuai dengan pernyataan readktur Ensiklopedia Umum Yahudi, Dr. Joseph Barkley dalam bukunya “Kesusastraan Ibrani”: “Saat ditulisnya Talmud Jerussalem dan Babilonia, bangsa Yahudi berada dalam kondisi damai (Comparative Peace). Sejak wafatnya Hakhom Yudah yang suci sampai dengan dinobakatkannya Konstantin sebagai raja (Romawi), biara Thabariyah tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk ataupun tekanan-tekanan”. (hal.12)
[11] Jelas sekali bahwa Talmud Jerussalem saat ini masih tetap ada, tapi dalam keadaan semrawut, sementara Talmud Babilonia menderita banyak kekurangan. Untuk kalangan Yahudi sendiri tetap digunakan Talmud yang asli seperti yang diterbitkan di Venezia.
[12] Lahir di Babilonia pada tahun 175 M dan wafat pada tahun 247 Masehi
[13] Lihat The Babylonian Talmud, karya Dr.  Fabian, hal.7
(Ahmadbinhanbal)

0 Saat Roket Hamas Menyerang Israel, Dimana Netanyahu?

benBERBEDA, beda pemimpin umat Muslim dengan Zionis sangat mencolok. Jika pemimpin umat Muslim habis-habisan membela agama Allah swt. dengan cara apapun yang mereka bisa, bahkan hingga meregang nyawa sekalipun akan dilakukan. Karena mereka meyakini janji Allah, menjadi syuhada.
Maka tidak dengan petinggi Zionis, Netanyahu yang selalu berani berbicara di media massa. Kini ‘mengkeret’ dengan roket-roket yang diluncurkan Hamas ke Israel. Dimanakah dia bersembunyi dan menyelamatkan dirinya sendiri?
Tembakan 150 rudal Hamas dari Jalur Gaza ke ibukota Israel, Tel Aviv, benar-benar di luar dugaan intelijen dan petinggi militer Israel. Buktinya, laporan dari Channel 10 Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu harus bersembunyi di bunker menghindari serangan Hamas.
Dilaporkan Channel 10, Jumat (16/11/2012) Perdana Menteri Negeri Zionis itu oleh pengawal-pengawalnya dipaksa untuk bersembunyi di dalam sebuah bunker bawah tanah, guna menghindari serangan rudal yang bertubi-tubi mengincar sasaran di sejumlah bangunan di Tel Aviv secara acak. [hf/islampos/presstv]

search

YANG NYASAR DI BLOG