Pages

Kamis, 05 April 2012

0 Indonesia: Antara Minyak Iran Dan Titah Amerika

Image634692209620000000Pada tanggal 26 Maret 2012 yang lalu, Amerika memerintahkan negara negara termasuk Indonesia untuk tidak mengimport minyak dari Iran. Retorika Indonesia sebagai negara yang bebas dan aktif cuma omong kosong. Padahal Rusia, India, China, Pakistan, Turki, Jepang, Korea dan terakhir Afrika Selatan menyambut dengan senyum sumringah murahnya minyak Iran.
Malang benar nasib Republik Indonesia yang tetap bersikukuh tunduk kepada komando yang diberlakukan AS terhadap Indonesia. Pada Februari 2012 bulan lalu, kapal tanker minyak Iran lego jangkar di Perairan Karimun, Batam, Indonesia yang oleh pemerintah hanya dianggap wisata dan dolanan oleh pejabat negara.

Sementara dilaporkan, saat ini Afrika Selatan dilaporkan terus meningkatkan impor minyak mentah dari Iran sebesar 364 juta dollar pada Februari, naik dari nol pada bulan sebelumnya meskipun AS terus menekan negara itu, dikatakannya Afrika Selatan dengan tegas mengabaikan embargo AS yang dikenakan kepada Republik Islam, kata laporan resmi Afrika Selatan, The South African Revenue Services (SARS).

The South African Revenue Services (SARS) pada Senin, 02/04/12 mengungkapkan bahwa pada bulan Februari 2012, negara itu sudah mengimpor 417.000 ton minyak mentah Iran dimana mengalami sedikit penurunan sejak bulan Oktober 2011 yang mengimpor 467.000 ton minyak mentah Iran, Reuters melaporkan.

Pada bulan Januari 2012, perdagangan dan bea cukai menunjukkan bahwa impor minyak mentah Afrika Selatan dari Iran berada pada titik nol, dibandingkan dengan rata-rata bulanan sebesar USD 280 juta pada tahun lalu.

AS dan Uni Eropa telah memberlakukan sanksi finansial dan minyak terhadap Iran sejak awal 2012. Namun bagi Tehran, sanksi itu tidak akan mampu menghentikan Republik Islam untuk mandiri dalam program energi nuklir.

Dengan jatuhnya sanksi ekonomi Amerika-Eropa kepada Iran maka Iran menjual minyak termurah dengan pembayaran termudah. Bisa dapat diskon 15% dan bayar pakai Rupiah, bukan dollar. Tapi semua tutup mulut. Peluang emas ini sirna begitu saja karena taat dan beriman kepada big boss di Washington-London-Tel Aviv. Retorika Indonesia sebagai negara yang bebas dan aktif cuma omong kosong. Padahal Rusia, India, China, Pakistan, Turki, Jepang, Korea dan terakhir Afrika Selatan menyambut dengan senyum sumringah murah meriah  minyak Iran.

Tapi bagi Republik Indonesia? Tetap menjadi begundal AS. Sementara saat ini pemerintah gembar gembor akan mencabut subsidi BBM dan PASRAH bahwa kenaikan harga BBM sudah takdir ilahi, bukan akibat akal bulus yang amat terang benderang. [Islam Times/on/Press TV]

Senin, 02 April 2012

0 Demo BBM: Ancaman Amerika dan Politik Pamrih

Image634690346754687500Demo dan protes atas rencana pemerintah untuk menaikkan tarif BBM kali ini tidak saja membawa emosional juga membawa berbagai sudut dimensi moral. Dan gregetnya, aksi ini menimbulkan gempa politik dan gemuruh yang meledak-ledak dari yang mengusung ideologi hingga yang hanya sekedar hura-hura dan pura-pura.

Gemuruh ledakan gempa politik semakin parah lagi saat para politisi mengerahkan massanya yang nampak sekali sedang berlomba mencari muka untuk mensterilkan wajah mereka yang sudah bopeng dan lebam untuk kemudian menyibukkan diri mendongkrak citra dan rasa. Dalam setiap kesempatan mereka begitu familiar menyiapkan berton-ton kata-kata dan konsep-konsep abstrak melegalkan penghianatan amanat rakyat dihadapan rakyat. Sebuah perpaduan yang adonannya pas untuk menepis setiap kemungkinan kecurigaan rakyat kalau ini tak lebih dari program persengkongkolan kejahatan yang paripurna.

Ironis bila mengingat mereka telah digaji mahal-mahal dengan uang pajak rakyat untuk sesuatu yang derajatnya jauh lebih mulia dari sekedar kekuasaan sesaat. Sebuah momentum pamrih politik demi investasi menggiurkan menjelang Pemilu 2014 nanti.

Tak heran jika banyak politisi mencoba menggunakan amunisi kenaikan BBM bertekad menggoyang rezim dengan harapan “siapa tahu bisa jadi pahlawan”. Mereka yang secara sadar tidak bakal mampu mendongkel rezim, namun tetap berupaya sebagai modal politik menjelang Pemilu 2014 kelak.

Yang menggelikan adalah, mereka yang menjejakkan dua kaki ditempat berbeda. Satu di pemerintahan dan menjadi bagian dari koalisi dan satu lagi di pihak oposisi. Yang model demikan ini tidak pernah alpa memanfaatkan momentum dan sentimen publik terhadap kebijakan pemerintah yang memang sedikitnya merugikan rakyat dan menguntungkan segelintir taipan kaya raya dan asing. Tentu saja jalan bejad seperti itu adalah bagian dari investasi menggiurkan menjelang Pemilu 2014 nanti.

Sebab, sudah jadi rahasia umum kalau sektor energi Indonesia, khususnya minyak dan gas, banyak bergantung kepada pendanaan dan kehadiran predator asing utamanya AS. ”Posisi tawar Indonesia dibidang energi,” menurut Priagung Rahmanto dari Reforminer Institue, ”sangat lemah.” Sekitar 55% produksi minyak mentah Indonesia ada di tangan Chevron, katanya. Di tengah seratnya anggaran negara, penurunan produksi minyak mentah dari perusahaan seperti Chevron tentu adalah hal terakhir yang ingin didengar pemerintah. Tapi, kata Priagung, Indonesia tak serta-merta harus membebek. ”Kita harus menghitung apa yang bakal kita dapat dari patuh kepada aS,” katanya.

Dia pribadi bilang Indonesia tak perlu tunduk. Tapi apakah politisi-politisi diatas masih punya nyali untuk tidak berkata "IYA" kepada Amerika Serikat?

Senada dengan apa yang dikatakan oleh Rahmanto, Hasyim Muzadi juga menilai pemerintah saat ini lebih takut kepada pihak asing daripada membela kepentingan rakyatnya sendiri. "Di sinilah letaknya, mengapa pihak asing selalu mendesak pemerintah untuk mencabut subsidi. Tentu itu bukan untuk kepentingan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Selasa (27/3).

Pro-kontra kenaikan harga BBM adalah ekses otomatis yang akan dihadapi bangsa ini, kapan saja dan dimana saja, bahkan rakyat terpaksa harus berhadap-hadapan dengan TNI/Polri, pilar negara kebanggaan jutaan warga sebangsa.

Tapi, kencangnya tekanan asing dan ketertundukan pemerintah pada kehendak perusahaan predator kaya raya utamanya AS, akan memaksa pemerintah untuk tidak punya pilihan selain menggolkan kenaikan harga BBM. Sementara politisi yang koar-koar teriak keadilan di luar sana, bisa dibilang adalah mereka yang tak bisa ikut menikmati dan merayakan nikmatnya kue politik dan kekuasaan. Sebagian adalah mereka yang memang sejak awal terpelanting dan tidak bisa merasakan lezatnya kue kekuasaan. Sebagian lagi adalah mereka yang tidak dapat tempat karena seat pesawat kekuasaan SBY “sudah penuh”. Bahkan sebagian lagi belum pernah mengecap kekuasaan dan belakangan terang-terangan menyatakan perlawanan atas rezim.

Dan, ancaman Washinton untuk Indonesia sebenarnya bukan cerita baru meski ini jarang di ketahui publik umum. Tapi bagi politisi dan pejabat elit di Jakarta sana, tentu sangat fasih dan familiar memahami persoalan ini, tapi mengapa mereka tetap anteng dan tenang menggerendel mulut mereka? [Islam Times/on] Redaksi Islam Times

0 Mantan Marinir AS Yakin, Dalang 9/11 Adalah Zionis Israel

Image634690447928437500Mantan veteran Korpd Marinir Amerika Serikat (AS) mengungkap fakta bahwa Israel mendalangi serangan 9/11. Ia menyatakan jika AS mengetahui hal ini maka Rezim Zionis di Israel pasti akan dimusnahkan.

Penulis, konsultan dan mantan veteran yang mengkhususkan diri pada masalah keamanan nasional dan internasional, Alan Sabrosky mengisahkan percakapannya dalam dua minggu terakhir dengan salah seorang rekannya di Kampus Army War, di Markas Korps Marinir.

Ia menyatakan, tragedi 9/11 yang selama ini identik dengan serangan teroris jaringan Alqaidah pada dasarnya merupakan ulah Zionis Israel.

"Saya sudah melakukan perbincangan selama dua pekan dengan salah satu rekan di Markas Korps Marinir. Saya yakin 100 persen serangan 9/11 adalah bagian dari operasi Mossad yang dilakukan Zionis Israel,' ujar Sabrosky di situs Youtube.

Salah satu yang paling meyakinkan Sabrosky adalah mengenai runtuhnya gedung ketiga saat terjadi serangan 9/11. Menurut Sabrosky runtuhnya gedung ke tiga ini bukan akibat dari tabrakan pesawat yang kemudian meledak, namun ada kontrol lain yang disambungkan ke dalam gedung hingga membuat gedung ini runtuh.

Hal ini diungkapkan Sabrosky setelah sebelumnya mewawancarai ahli penghancuran dari Denmark bernama Danny Jowenko. "Bangunan ketiga tidak ditabrak pesawat, tetapi ada kabel yang menghubungkan dengan gedung tersebut dan dikendalikan, terlihat dari runtuhnya bangunan yang teratur dari bawah," ungkap dia.

Sabrosky mengatakan jika orang Amerika tahu tentang kebenaran di balik serangan 9/11, mereka tidak akan ragu untuk memusnahkan Israel, berapapun biaya yang harus mereka keluarkan.

Pada tanggal 11 September 2001, serangkaian serangan yang selama ini dianggap kegiatan terorisme menyebabkan hampir tiga ribu warga AS tewas. Selama ini pemerintah AS menyatakan bahwa 19 teroris, yang diduga berafiliasi dengan jaringan Alqaidah di Afghanistan membajak empat pesawat jet komersil dan melakukan serangan ke Gedung World Tread Center (WTC).

Atas dasar itu pula Pemerintah AS di bawah pimpinan Presiden Bush menginvasi Afganistan pada 2001. AS juga kemudian menyerang Irak pada 2003, mereka bersikeras bahwa begara kaya minyak tersebut bertanggung jawab atas kepemilikan senjata pemusnah massal.
source:konspirasi.com

search

YANG NYASAR DI BLOG