Pages

Sabtu, 15 Desember 2012

0 Perlombaan Senjata Antara Rusia dan Barat

Pemerintah Rusia dalam beberapa tahun terakhir mangambil langkah-langkah penting sejalan dengan program modernisasi angkatan bersenjata dan juga mempersenjatai militer dengan peralatan tempur canggih.

Para pejabat tinggi militer dan politik Moskow menekankan penambahan anggaran militer dan modernisasi peralatan tempur dengan tujuan meningkatkan kemampuan pasukan militer Rusia. Mereka juga menegaskan penguatan kemampuan nuklir sebagai pilar utama pertahanan Rusia. Saat ini, Rusia sedang meningkatkan kemampuan rudal-rudal balistik baru dan memproduksi senjata-senjata baru.

Panglima Kesatuan Rudal Strategis Rusia, Kolonel Jenderal Sergei Karakayev mengatakan, Rusia sedang mengembangkan rudal balistik antarbenua baru untuk menggantikan rudal-rudal lama, termasuk Topol-M (SS-27 Sickle B) dan Yars (RS-24).

Topol-M adalah rudal ini berdaya jelajah hingga 11.000 kilometer dan mampu membawa hingga empat hulu ledak nuklir terpisah, yang berdaya ledak hingga 800 kiloton.

Pengembangan rudal dengan daya hancur maksimum dan berkemampuan manuver tinggi itu merupakan jawaban Rusia atas rencana Amerika Serikat menggelar sistem perisai rudal canggih di Eropa.

Presiden Vladimir Putin dalam sebuah rapat untuk membahas program pemerintah memproduksi senjata nuklir mengatakan, "Kami tidak berniat melakukan perlombaan senjata, tapi tidak seorang pun berhak meragukan kemampuan arsenal nuklir dan sistem pertahanan udara Rusia."

Menurut Putin, senjata atom sebagai penjamin utama kedaulatan dan wilayah teritorial Rusia, memainkan peran kunci dalam menjaga perimbangan kekuatan dan stabilitas kawasan dan dunia. Dia juga menekankan kerjasama yang lebih erat di antara angkatan bersenjata Rusia untuk meningkatkan kemampuan persenjataan nuklir.

Diperkirakan bahwa jika program tersebut sepenuhnya terealisasi, pada tahun 2020 senjata dan peralatan tempur modern akan membentuk 85 persen dari seluruh persenjataan pasukan Rusia.

Putin juga menolak mengurangi senjata strategis secara sepihak. Dia menegaskan bahwa Rusia tidak akan menutup mata dari senjata nuklirnya selama senjata-senjata konvensional belum bisa setara dengannya. Berdasarkan Kesepakatan Pengurangan Senjata Strategis (START), Rusia dan AS berkomitmen untuk mengurangi jumlah hulu ledak nuklirnya menjadi 1.550.

Menurut beberapa laporan, AS menyimpan 9.500 hulu ledak nuklir, sementara Rusia memiliki sekitar 13.000 hulu ledak nuklir. Dari jumlah itu, 2.500 hulu ledak nuklir AS dan sekitar 5.000 hulu ledak nuklir Rusia siap digunakan.

Putin telah melakukan upaya luas untuk menghidupkan kembali militer Rusia dan meningkatkan kemampuan mereka. Di antara program Putin adalah memperkuat kemampuan strategis nuklir dan juga melibatkan tentara yang berpengalaman dalam struktur militer Rusia. (IRIB Indonesia/RM/NA)

search

YANG NYASAR DI BLOG