Pages

Kamis, 06 September 2012

0 Supervolcano di AS Bisa Mengancam Bumi?

Ancaman mengintai dari Taman Nasional Yellowstone yang indah
Ancaman mengintai dari Taman Nasional Yellowstone yang indah (dailygalaxy.com) (dailygalaxy.com)
Sulit untuk tidak merasa kagum kala berdiri di tengah Taman Nasional Yellowstone. Saat geyser Old Smith menyembur, seakan mencapai langit. Saturasi warna biru dan hijau di kolam geotermal berpinggiran terang, menawarkan pemandangan yang indah.

Pegunungan yang menjulang diselimuti vegetasi lebat, menyediakan tempat tinggal bagi hewan-hewan liar. Namun, di balik keindahan Yellowstone, ancaman mengintai. Sebuah gunung berapi besar (supervolcano) yang cukup kuat untuk menghancurkan sebagian besar wilayah Amerika Serikat dan mengubah dunia, bersemayam di sana.

"Yellowstone dan sejumlah gunung berapi di dunia disebut supervolcano. Alasannya, ukurannya yang besar," kata Hank Hessler, ahli geologi Yellowstone di negara bagian Wyoming, AS.

Selain ukurannya, supervolkano juga mampu menghasilkan letusan dahsyat dengan area lebih dari 1.000 kilometer kubik (240 mil kubik). Saat magma dalam bumi tak mampu menembus kerak. Menciptakan tekanan besar yang terus mendorong magma hingga tercipta kolam magma yang cukup besar.

Ini contoh perbandingannya: pada 18 Mei 1980, Gunung St Helens meletus, yang dari segi kekuatan maupun kerugian ekonominya terparah sepanjang sejarah AS. Sebanyak 57 orang tewas, dan puncak gunung berkurang dari 2.950 meter berkurang menjadi 2.550 m.

Sementara saat supervulcano Yellowstone erupsi 2,1 juta tahun lalu, kekuatannya 25.000 kali kekuatan St Helens. Dua letusan lainnya, 1,3 juta tahun lalu dan 640 ribu tahun lalu, meski lebih kecil dari yang pertama, jauh lebih dahsyat dari letusan gunung normal lainnya.

Atau dengan kata lain, berada di atas taman nasional yang tenang itu sejatinya sedang duduk di atas mulut raksasa tidur.

Karakteristik supervolcano tidak seperti gunung kebanyakan yang berbentuk mengerucut. Sebaliknya, gunung super punya apa yang disebut kaldera, area luas yang melesak masuk ke dalam tanah akibat erupsi mahadahsyat yang membuat tanah meledak dan jatuh kembali, beristirahat panjang. Untuk akhirnya terbangun lagi pada suatu masa nanti.

Geofisikawan Bon Smith adalah orang yang kali pertama menyebut Yellowstone sebagai kaldera hidup yang bernafas pada 1979. Kini ia mengepalai Observatorium Volcano Yellowstone di University of Utah. "Yellowstone punya arti sangat penting, dia adalah laboratorium saya," kata dia.

Smith dan timnya memasang serangkaian sensor berbeda di sekitar taman nasional, sehingga mereka bisa mengawasi tanda-tanda vital. Mereka mengukur gerakan tanah dan mencatat gempa yang terjadi di area itu.

Sensor tersebut telah membantu Smith dan timnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana. Sedikitnya 8 kilometer di bawah permukaan, tersimpan batuan padat dan magma.

Dan di bawahnya, terdapat 57.000 kilometer kubik batuan yang sangat panas, energi di balik kolam menggelegak dan geyser di Yellowstone.

"Kiamat"
Apa yang akan terjadi jika Yellowstone meletus? Dalam bukunya "Windows into the Earth", Smith mengatakan, jika di masa depan ia kembali meletus, yang terjadi adalah petaka. "Sebuah kehancuran besar dan tak bisa dipahami," kata dia.

Sebelum letusan mahadahsyat itu terjadi, lindu besar akan kuat mengguncang area sekitarnya, lalu ledakan besar akan menyapu bersih Yellowstone, membuatnya lenyap dari peta.

Kemudian, awan panas dan batuan membara membakar apapun yang dilewatinya, dengan suhu mencapai ratusan derajat Celcius. Abu akan menyelimuti bagian barat AS, masuk ke mesin pesawat terbang, melumpuhkan transportasi udara, mengancam pasokan pangan dunia.

Jatuhnya korban jiwa tak bisa dicegah. Sekitar 87.000 orang akan tewas seketika, belum lagi yang menyusul akibat dampak susulan.

Kini yang jadi pertanyaan adalah, kapan Yellowstone akan meletus?

Untuk diketahui, tiga letusan gunung super itu terjadi dalam jeda sekitar 800.000 tahun. Orang-orang mulai berspekulasi, letusan selanjutnya tinggal menunggu waktu.

Apalagi, pada 2004, tim Smith menemukan ada kenaikan tanah, lalu kembali turun pada 2010 lalu. Seakan gunung itu sedang bernafas.

Namun, kata Smith, orang-orang tak perlu panik. "Kami telah menyusun skrenario kasar. Kami telah memperkirakan pola waktu dan ruang berdasarkan informasi gempa yang ada. Dan seperti pengalaman di bagian lain di muka bumi, kami menggunakan data tersebut untuk menginterpretasikan potensi ancaman dan risiko," tambah dia. Dengan mengetahui sifatnya, tindakan pencegahan untuk meminimalisasi risiko bisa dilakukan.
Menurutnya, ancaman paling dekat terkait Yellowstone adalah gempa bumi dan letusan-letusan kecil. Kemungkinan untuk terjadi lebih besar dari sebuah letusan kolosal. Sumber: CNN

search

YANG NYASAR DI BLOG