Pages

Minggu, 09 September 2012

0 Madonna: Di Organisasi Kebajikan Muslim Malaysia Saya Melafadkan Syahadah



Melihat kembali masa lalu saya, sudah pasti saya akan katakan bahwa kelahiran anak perempuan saya merupakan titik penting dalam hidup saya. Sebelum ia lahir, saya menjalani kehidupan begitu saja, membiarkan waktu berlalu dan perhatian saya kepada setiapkrisis yang terjadi pada diri saya. Jika tidak ada, saya akan membuatnya.
 
Ketika hamil, saya tahu bahwa saya harus membesarkan anak saya sendirian. Andai bukan karena cinta, dedikasi, dan tekad ibu saya, sudah tentu masalah iniakan berbeda. Saat anak saya berusia lima bulan, ia meninggal dunia karena 'Sudden Infant Death Syndrome' (SIDS), yang diistilahkan dalam dunia medissebagai 'sebab yang tidak diketahui'.
 
Saya tidak pernah melalui kesakitan, panik, dan kekosongan total seperti itu. Bagaimanapun, sepanjang prosesi pengebumian, saya membujuk orang lain, dengan mengatakan bahwa saya mempercayai Tuhan tidak akan menyebabkan kesakitan kepada saya.Diapasti akan memberikan saya sesuatu yang lebih baik pada masa akan datang; apa yang harus saya lakukan ialah terus berada di jalan yang benar, dan Tuhan akan menunjukkannya kepada saya ketika saya sudah bersedia.
 
Rekan-rekan mengatakan, "Anda akan bertemu dengan anak anda satu hari nanti." Saya bertanya kepada mereka secara terbuka; bagaimana anda tahu bahwa satu hari nanti saya akan masuk surga? Jika hanya saya sebagai seorang Kristen, itu belum menjadi jaminannya, karena saya sendiri tidak dapat menerima semua ajaran Kristen. Masih banyak persoalan yang tidak terjawab. Maka keinginan saya untuk mencari 'satu agama benar' muncul untukmendapatkan kepastian bahwa satu hari nanti saya akan menemui anak perempuan saya kembali.
 
Saya meneliti kembali secara sungguh-sungguh agama Kristen. Walaupun saya seorang Kristen, saya mendapati kesulitanuntuk melihat di luar gereja, walaupun hati saya bukanlah sepenuhnya Kristen. Orang akan berkata kepada saya, 'Nabi Isa bercakap dengan saya hari ini,' atau 'Jesus bersama anda, apa yang harus anda lakukan ialah mengundangnya ke dalam hati anda dan anda akan dapat bertemu dengan anak perempuan anda dalam surga'.
 
Saya mulai berpikir bahwa saya akan musnah. Saya melihat kartu Tarot, kristal, dan malah berfikir bahwa semua agama akan membawa anda ke surga, jika anda mengikuti kepercayaan mereka.
 
Akhirnya saya berhenti mencari untuk seketika dan mendapat kerja disebuah bar di Indianapolis. Di sana saya bertemu dengan seorang perempuan, yang kemudian berubah menjadi rekan baik saya untuk beberapa waktu. Dia menjalankan 3 atau 4 bisnis dari rumahnya, tetapi tidak ada yang maju, malah sebagiannya menjadi permasalahan.
 
Satu hari, ia meminta saya untuk pergi ke Malaysia. Ia ingin saya membelikannya pakaian ala malaysia, mendapatkan gambar-gambarnya, dan mencari seorang importer-exporter untuk menguruskan bisnis ini. Tanpa berpikir, saya berkata 'saya akan pergi ke Malaysia'.
 
Saya tiba di Kuala Lumpur di pertengahan bulan Ramadhan. Sebelum ini saya tidak pernah mendengar tentang Islam, dan saya juga tidak punya pikiran sedikitpun bahwa Malaysia adalah sebuah negara Islam. Hampir setiap wanita yang saya temui memakai kerudung di tengah cuaca panas 95 derajat! Saya juga mendapati mereka baik terhadap saya. Ada seorang kenalan yang bisa berbahasa Inggris dengan baik menjelaskan kepada saya bahwa Malaysia adalah negara Islam, dan Muslim menyakini bahwa jika kita melakukan kebaikan karena ingin mendapatkan keridhaan-Nya, maka kita kita akan mendapat pahala bagi perbuatan tersebut di Hari Kiamat nanti, Insya Allah.
 
Saya juga melihat aspek negatif Islam, seperti yang dilihat oleh orang lain, yang jahil tentang Islam; maka saya membeli beberapa buah buku termasuk sebuah al-Quran dan mulaibelajar tentang Islam.
 
Saya bertanya banyak pertanyaan, seperti mengapa perempuan harus menutup seluruh tubuh mereka, kecuali wajah dan tangan? Mengapa setiap orang gembira dan bersungguh-sungguh melaksanakan puasa sepanjang hari? Mengapa orang boleh demikian gembira saat mereka di perintah suruh berlapar? Tampaknya tidak ada yang dapat memberikan saya jawaban yang menyakinkan, saya merujuk kepada al-Quran.
 
Selama ini seingat saya, saya merasa asing dalam kristen, seolah-olah hanya saya yang tidak memahami bahwa seluruh gereja yang tidak mengetahui bahwa gurauan tersebut adalah berkaitan saya.
 
Semakin saya belajar tentang Islam, semakin saya mendapati bahwa adakah ini jalan untuk menemui anak saya; adakah agama ini akan membawa saya ke surga??
 
Walaupun halangan terbesar saya adalah berkaitan pandangan Islam tentang Nabi Isa, dan bagaimana harus saya menjelaskan perkara ini kepada semua orang di rumah, saya mendapatkan jawaban pada sebagian pertanyaan saya dan menyadari bahwa Islam adalah agama yang saya cari selama ini.
 
Ada satu masalah, haruskah saya menyambauttantangan ini… Menjadi Muslim dan berjalan lurus ke surga? Atau menolak Kebenaran yang saya akui dalam hati karena takut pada penolakan dan penghinaan dari keluarga dan sahabat handai…dan tinggal di neraka selamanya??
 
Perasaan saya diselubungi dengan rasa kekecewaan dan kecemasan. Inilah kondisi pikiran saya setiap hari saat akanmengambil keputusan untukmemeluk agama Islam atau tidak.
 
Bagi saya, keputusan ini bukan satu yang mudah. Islambukanlah agama separuh masa; seorang Muslim sejati tidak sekadar mengamalkan Islam sehari dalam seminggu. Islam merupakan tantangan sepenuh masa dengan usaha yang keras, demikian juga manfaatnya. Semakin jauh anda belajar dan memahaminya, semakin anda menyadari bahwa anda hanya berada dipermukaan, yang menyebabkan anda semakin berusaha keras untuk belajar lebih banyak.
 
Satu hari saya bangun dengan kata-kata, 'OK, saya percaya, saya akan memeluk agama Islam', dan dari detik tersebut, segala kecemasan dan keraguan sirna…Alhamdulillah.
 
Segala kesakitan yang saya rasakan dari pengalaman lalu, termasuk kematian anak, sirna. Igauan buruk juga berakhir, saya merasakan kedamaian yang menakjubkan.
 
Saya pergi ke PERKIM, Organisasi Kebajikan Muslim Malaysia, melafadkan syahadah, mengisi kehidupan saya dengan kedamaian dan cinta kepada Allah swt, Alhamdulillah.
 
Melihat ke belakang, apa yang dapat saya katakan bahwa segala pengalaman yang saya lalui untuk mencapai Islam adalah bernilai, karena kini, Insya….Saya akan bisa melihat dan memegang anak saya semula, jika saja saya tetap berada di jalan yang benar.
 
Sebenarnya, saya harus melalui berbagai tantangan, menjadi Muslim bukan bermakna saya tidak punya masalah. Tetapi menjadi seorang Muslim haru menghadapi setiap tantangan yang akan saya lalui, dan begitu juga ada solusinya dalam mengikuti jalan yang benar. Jalan penghujungnya terbentang surga, anak saya dan berbagai karunia yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia.
 
Segala puji bagi Allah yang telah membawa saya kepada Kebenaran dan atas Rahmat-Nya saya menjadi Muslim. (IRIB Indonesia/onislam.net)

search

YANG NYASAR DI BLOG