Pages

Rabu, 12 September 2012

0 Istana Jutawan Roma

 Istana Jutawan Roma

Di kota pertanian orang Roma, pedagang menjadi kaya dalam waktu singkat.

Oleh Tom O'Neill
Foto oleh Karla Gachet dan Ivan Kashinsky
Dengan tangan terlipat di atas perut buncit dan topi fedora jerami bak mahkota di kepala, pria tua bernama Paraschiv duduk bersandar di bangku, memperhatikan lingkungannya. Sungguh pemandangan tak lazim di kawasan pedesaan Rumania. Di kedua sisi jalan utama, tampak deretan rumah megah. Serambinya dilengkapi balkon dan tiang. Atap dijejali cerobong asap, menara, dan kubah. Mobil BMW dan Mercy lalu-lalang di jalan. Saat itulah sopir truk yang mengangkut babi mendadak menginjak rem dan terpana menatap rumah-rumah itu.

Paraschiv tersenyum. Ini kampung halamannya; ini Buzescu, ajang pameran perkembangan penduduk terunik Eropa, para hartawan Roma.Paraschiv tidak menggunakan kata “Roma,” nama yang benar dan terhormat untuk kelompok etniknya yang berarti “lelaki” dalam bahasa Romawi. Alih-alih, dia dan tetangganya menyebut diri mereka Tsigani, atau Gipsi, sebutan yang bernada merendahkan yang mereka kenal sejak kecil. Sebutan yang masih sering digunakan banyak warga non-Roma di negaranya, yang bersinonim dengan pengemis, pencuri, parasit.

“Saya membangun salah satu dari deretan rumah megah pertama pada 1996,” katanya sambil menggerakkan kepala ke arah rumahnya yang semarak dihiasi marmer abu-abu dan putih dengan balkon di semua sudut. Nama putranya, Luigi dan Petu, disablon di bagian atas menara, dilapisi timah. “Kedua anakku ingin merobohkan rumah ini dan membangun dengan bentuk lain; katanya yang ini sudah ketinggalan zaman.” Paraschiv mengangkat bahu. “Ya terserah saja.”

Rumah megah Paraschiv yang berlantai dua itu termasuk rumah sederhana. Istana raksasa berlantai lima dengan kolom di sana-sini semakin banyak jumlahnya di bagian selatan kota, tempat tinggal orang Roma. Ada juga yang tampak seperti bangunan kantor pusat, berdinding melengkung dari gelas-cermin; kastil bangsawan, dengan benteng dan balkon berwarna-warni seperti tempat duduk penonton VIP di gedung opera; dan pesanggrahan khas Swiss, dengan atap berpuncak tinggi dan patung kurcaci di beranda.

Tampilannya mencolok mata, arsitekturnya berlebihan, selera orang kaya baru. Secara keseluruhan, sekitar seratus rumah megah Roma bermunculan dengan pesat di desa pertanian yang sebenarnya sangat bersahaja dengan jumlah penduduk 5.000 jiwa, sekitar 80 kilometer di barat daya ibu kota, Bukares.

Judul “Hartawan Roma” terlihat seperti salah cetak, kelakar sinis. Sejumlah besar orang Roma di Rumania yang diperkirakan mencapai dua juta orang, atau sekitar 10 persen dari populasi, hidup miskin dalam lingkungan yang berat. Komunitas mereka terjebak dalam kekumuhan kota yang jorok atau dalam gubuk kardus di tepian kota. Nasib mereka sama dengan orang Roma di seluruh Eropa Timur; di situ mantan orang-orang seminomaden ini adalah warga kelas bawah yang dibenci, mencolok mata karena kepapaan, tidak berpendidikan, serta memiliki kepicikan yang mendarah-daging.

Bagi sejumlah besar gadje, istilah orang Roma untuk non-Roma, rumah mewah orang Roma di Buzescu sangat menusuk hati, cara pamer kekayaan yang tak layak dimiliki. Namun, kaum elite Roma tidaklah bermaksud membuat orang lain terkesan. Mereka tak ingin orang berhenti, bertanya, dan memotret. “Tempat seperti ini tidak cocok untuk Anda,” kata Gelu Duminica, ahli sosiologi Roma. Maksudnya, tidak cocok bagi semua orang yang bukan orang Roma. Rumah-rumah megah itu dibangun hanya untuk mengesankan sesama orang Roma, ujar Duminica, sebuah cara pamer kekayaan dan status di kalangan mereka sendiri.
sumber

search

YANG NYASAR DI BLOG