Pages

Selasa, 21 Agustus 2012

0 Terancam oleh Assange, Barat akan Meninjau Kembali Trik Mata-mata


Pada tahun 1979, ketika mahasiswa revolusioner Iran menduduki Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tehran yang dijadikan sebagai sarang mata-mata, Washington dan sekutu-sekutunya menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran atas Konvensi Wina tentang hubungan diplomatik dan konsuler.

Namun pada Agustus 2012, Inggris mengeluarkan ancaman terhadap Kedutaan Besar Ekuador di London dan akan mencabut sementara kekebalan ekstra-teritorialitas dan diplomatik dari misi diplomatik Ekuador untuk menangkap pendiri WikiLeaks Julian Assange dan mengekstradisinya ke Swedia untuk menghadapi tuduhan penyerangan seksual.

Pemerintah Ekuador mengungkapkan ancaman Inggris terhadap kedutaannya di London. Inggris menyatakan punya hukum yang mengesahkan aparat negara itu memasuki Kedutaan Ekuador di London. Pada tahun 1987, Inggris mengesahkan peraturan yang melegalkan aparat negara itu mencabut status diplomatik bangunan yang dikuasai pihak asing.

Usaha Inggris mencabut status kekonsuleran kompleks kedutaan asing dianggap melanggar hukum internasional. Hukum internasional menetapkan kedutaan adalah wilayah negara asing dan pemerintah setempat tidak berwenang memasuki kompleks kekonsuleran atau kedutaan tanpa izin.

WikiLeaks yang telah membocorkan lebih dari 250.000 kabel diplomatik rahasia AS, melihat berbagai komunitas intelijen Barat telah menyusun kekuatan untuk menyerahkan Assange ke AS, bersama dengan serdadu AS Bradley Manning, karena membocorkan kabel diplomatik kepada pers.

Harian The Sydney Morning Herald melaporkan bahwa dua badan intelijen Australia, telah mendapat penjelasan dari rekan-rekan mereka di Amerika terkait kemungkinan ekstradisi Assange ke AS dari Swedia.

Jika Inggris benar-benar melaksanakan ancamannya dan menerobos kedutaan Ekuador, ada kekhawatiran bagi AS dan sekutunya di Barat bahwa beberapa negara dapat memutuskan untuk menindak badan-badan intelijen Barat yang melakukan kegiatan spionase dan pengawasan elektronik di kedutaan.

Kabel-kabel rahasia itu mengungkapkan bahwa AS menempatkan prioritas tinggi terhadap para diplomat yang mengumpulkan data intelijen, termasuk rincian kendaraan yang mengangkut para pejabat pemerintah, operasi instalasi militer, dan scan iris mata, sidik jari, dan DNA.

Agen-agen pengintai AS di kedutaan dan konsulat beroperasi di bawah jabatan resmi sebagai petugas layanan luar negeri, seperti atase politik dan ekonomi, atau sebagai teknisi komunikasi dengan layanan telekomunikasi diplomatik. Mereka memantau kegiatan individu dan kelompok di berbagai negara yang dianggap sebagai ancaman terhadap AS.

AS diketahui menggunakan kedutaannya untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan misi diplomatik. Mereka juga mengirim peralatan penyadapan ke kedutaan dengan kantong diplomatik. Prosedur ini dilakukan selama bertahun-tahun oleh US Air Force Special Activities Division dalam sebuah operasi yang disebut CREDIBLE CAT.

Kedutaan AS berfungsi sebagai pusat intelijen, yaitu mengumpulkan informasi apapun yang berguna bagi pemerintahnya, sebagaimana yang pernah dibongkar oleh Wikileaks. Mereka aktif melakukan aktivitas mata-mata terhadap sebuah negara berdaulat yang menjalankan roda pemerintahannya dan warga negara yang melakukan rutinitas. (IRIB Indonesia/RM)

search

YANG NYASAR DI BLOG