Pages

Rabu, 29 Agustus 2012

0 Babak Baru Hubungan Mesir dan Cina


Presiden Mesir Muhammad Mursi memillih Cina sebagai negara tujuan kunjungan pertamanya di luar kawasan Timur Tengah. Dia tiba di Beijing, Selasa (28/8) petang dan langsung disambut oleh Presiden Hu Jintao dengan upacara kenegaraan. Presiden Cina mengatakan bahwa pertemuan ini akan menciptakan kerjasama berkelanjutan di berbagai bidang antara Beijing dan Kairo.

Presiden Hu menuturkan kunjungan Mursi diharapkan dapat meningkatkan dan mempererat hubungan kedua negara di berbagai bidang. Dia menyatakan bahwa hubungan baik antara Cina dan Mesir tidak saja dilakukan secara bilateral, namun pula dalam penyelesaian berbagai isu regional dan internasional.

Sejumlah pejabat tinggi ekonomi Mesir menyertai kunjungan tiga hari Mursi ke Cina dan fokus utama lawatan itu berhubungan dengan masalah ekonomi. Media-media Mesir melaporkan bahwa di antara motivasi Mursi mengunjungi Beijing adalah untuk menarik para investor asing khususnya mendorong para pengusaha Cina untuk menanamkan modalnya di proyek-proyek pembangunan dan infrastruktur Mesir.

Cina juga berjanji akan membantu perekonomian Mesir. Berdasarkan kesepakatan antara Beijing dan Kairo, Cina akan mengalokasikan dana 450 juta yuan kepada Mesir untuk memajukan proyek-proyek bersama infrastruktur di sektor listrik dan lingkungan hidup. Cina juga akan menyerahkan 300 mobil operasional kepada polisi Mesir.

Namun di balik tujuan-tujuan ekonomi, upaya untuk mengatasi ketegangan yang tersisa sejak pecahnya revolusi di Mesir juga telah mendorong perhatian Kairo ke Beijing. Pada dasarnya, misi untuk mempersiapkan langkah-langkah pemulihan hubungan politik antara Mesir dan Cina telah membawa Mursi ke Beijing.

Cina pada masa revolusi Mesir bersikap dingin terhadap gerakan kebangkitan rakyat itu. Beijing bahkan menyebut revolusi rakyat Mesir untuk menumbangkan rezim diktator sebagai demokrasi jalanan yang disertai kerusuhan. Meski demikian, Mursi kini memprioritaskan Cina dan bermaksud memanfaatkan posisi negara itu sebagai sebuah negara yang punya hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk meningkatkan peran efektif Kairo dalam krisis regional.

Dalam pertemuan dengan presiden Cina, Mursi memaparkan proposalnya terkait krisis Suriah. Proposal itu menekankan penyelesaian krisis Suriah secara damai dan menghentikan kekerasan di negara itu. Usulan Mesir sangat mirip dengan proposal Kofi Annan dan juga dekat dengan kebijakan Cina menyangkut Suriah.

Mursi ingin memperoleh keyakinan bahwa usulannya itu diterima oleh Cina sebagai anggota tetap Dewan Keamanan. Menurut rencana, Mursi juga akan memaparkan usulannya dengan beberapa pemimpin negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) di Tehran soal pembentukan sebuah komite yang terdiri dari Mesir, Iran, Turki dan Arab Saudi untuk menyelesaikan krisis Suriah.

Kebanyakan pengamat politik menilai bahwa kunjungan Mursi ke Cina dan selanjutnya ke Iran, bertujuan untuk menciptakan perimbangan dalam kebijakan luar negeri baru Mesir. Pada era Mubarak, Mesir dikenal sangat dekat dengan Amerika Serikat dan Barat.

Perhatian Mesir baru kepada negara-negara Asia juga ingin memberi pesan kepada AS, terlebih Mursi akan mengunjungi Washington bulan depan. (IRIB Indonesia/RM)

search

YANG NYASAR DI BLOG