Pages

Rabu, 09 November 2011

0 Perang Dunia III Sudah Dimulai

Beberapa pakar percaya bahwa Perang Dunia III akan dimulai 100 tahun setelah perang dunia sebelumnya dan akan memakan korban ratusan juta orang. Beberapa ilmuwan berpikir bahwa perang tersebut sudah berlangsung, sedang menyelesaikan tahap pertamanya.
Konstantin Sivkov, Vice-President pertama Academy for Geopolitical Issues, mengembangkan konsep ilmiah mengenai alasan, tahap, dan kerangka waktu Perang Dunia II. Dia berbagi ramalannya dengan Svobodnaya Pressa.
Sivkov percaya bahwa planet Bumi telah mengalami krisis peradaban secara global. Krisis itu disebabkan oleh beberapa ketidakseimbangan, yakni: 1) konflik antara pertumbuhan produksi/konsumi dan ketersediaan sumber daya; 2) konflik antara negara berkembang yang “miskin” dan negara industri maju yang “kaya”, antara negara dan elit transnasional; 3) konflik antara pasar bebas berkekuatan uang namun tak berjiwa dan akar-akar spiritual berbagai peradaban, meliputi Ortodoks, Muslim, Buddha, dan lainnya.
“Analisis atas solusi potensial untuk ketidakseimbangan dan konflik ini menunjukkan bahwa mereka bersifat antagonistik (berlawanan), dan krisis ini tidak bisa dipecahkan tanpa pelanggaran signifikan terhadap kepentingan beberapa subjek geopolitik besar. Ini artinya partisipasi kekuatan militer tidak terhindarkan. Mempertimbangkan sifat global krisis ini, kita dapat berasumsi bahwa partisipasi militer akan bersifat global pula,” Sivkov meyakini.
Dia memprediksi bahwa Perang Dunia III akan bersifat koalisi. Negara-negara akan membentuk koalisi berdasarkan loyalitas mereka kepada salah satu dari dua model tatanan dunia.
Model pertama adalah “dunia peradaban hirarki”. Segelintir pihak terpilih mengeksploitasi seluruh manusia secara brutal. Model kedua adalah “peradaban saling mendukung” atau “peradaban harmoni”.
“Dengan kata lain, perang ini akan berkecamuk untuk menentukan basis spiritual tatanan dunia baru. Apakah akan berbasis individualisme, keegoisan, dan penindasan, atau [berbasis] komunitas, memiliki kepentingan bersama untuk bertahan dan berkembang dan saling mendukung. Inilah perbedaan utama antara perang mendatang dan perang terdahulu yang digenderangkan untuk membagi-bagi perekonomian.”
Dua koalisi sudah eksis. Yang pertama adalah aliansi negara industri maju yang diwakili oleh peradaban Barat. Fondasi spiritual koalisi ini didasarkan pada individualisme dan penguasaan materi yang menghasilkan kekuatan uang. Inti militer dan politik koalisi ini diwakili oleh blok NATO. Koalisi kedua meliputi negara-negara ortodoks, Islam, dan peradaban lainnya yang didasarkan pada penguasaan spiritual di atas penguasaan materi. Koalisi ini menaruh perhatian pada tatanan dunia multipolar. Tapi, jangankan kebutuhan akan kesatuan politik atau militer, negara-negara ini belum menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan geopolitik bersama.
Negara-negara yang bukan bagian peradaban Barat tidak siap untuk berkonfrontasi militer dari segi organisasi maupun kesiapan teknis. Di sisi lain, koalisi ini punya mayoritas orang dan memiliki sumber daya yang banyak dan teritori yang luas. Ini sangat memperbesar peluang mereka untuk memenangkan perang panjang dan menyediakan situasi menguntungkan untuk melawan agresor selama tahap-tahap awal perang. Keunggulan potensial lainnya adalah bahwa serangan simultan ke semua arah hampir mustahil. Ini menghasilkan cadangan waktu untuk konsolidasi negara-negara ke dalam koalisi anti-imperialistik. Terdapat kemungkinan untuk mendukung negara yang akan menjadi korban pertama agresor,” kata Sivkov.
Ilmuwan ini yakin bahwa perang tersebut sedang berlangsung. Sampai sekarang itu ada dalam tahap yang relatif damai.
“Tahap pertama yang boleh kita sebut ‘upaya resolusi krisis secara damai’ sedang mendekati akhir. Pertemuan G20 yang berlangsung saat ini jelas-jelas tidak membawakan hasil. Provokasi Imedi dan Helsingin Sanomat menandai permulaan tahap kedua, yang boleh kita sebut ‘periode ancaman sebelum permulaan perang dunia’. Selama tahap ini, peradaban Barat telah memulai persiapan untuk perang lokal dan konflik bersenjata memperebutkan sumber daya. Aksi utama di tahap ini adalah operasi informasi dan aksi di bidang ekonomi yang bisa mengambil beraneka bentuk, dari sanksi ekonomi sampai serangan teroris terhadap fasilitas industri, serta beragam aktivitas Pasukan Khusus,” kata Sivkov.
Dalam beberapa tahun, tahap ketiga akan dimulai, tahap ‘perang terbatas’, yang selanjutnya akan menjadi perang dunia skala penuh dengan pengerahan semua tipe senjata.
Satu-satunya faktor penghalang saat ini adalah potensi nuklir Rusia. Menurut ramalan ilmuwan tersebut, Barat akan mencoba mengambil perisai nuklir Rusia.
“Pertimbangkan situasi di Rusia, di mana pilar kelima Barat tersebut mempengaruhi keputusan di sektor pertahanan Rusia secara signifikan, khususnya arah yang akan diambil oleh angkatan bersenjata Rusia, kita bisa menduga akan adanya bentuk kontrak SNF yang akan mencabut perisai nuklir Rusia. Tentu saja, itu akan disajikan dengan kemasan indah yaitu memperjuangkan dunia bebas senjata nuklir. Rusia mungkin menantikan penyingkiran potensi nuklirnya selama tahap-tahap awal perang dunia (serangan teroris terorganisir, dan lain-lain) seiring transisi lanjutan koalisi anti-imperialistik menuju pemakaian terbatas senjata nuklir, yang akan memberinya kemenangan dalam perang,” Sivkov menyatakan.
Dia percaya bahwa agresor tidak akan terhenti oleh kemungkinan matinya ratusan juta orang.
“Sejarah menunjukkan bahwa elit peradaban “egois” tidak terhenti oleh pengorbanan manusia jika terdapat jaminan bahwa manusia sendiri dapat bertahan di bunker-bunker. Analisis memperlihatkan bahwa jika perang dunia baru digenderangkan, itu akan menghabisi mayoritas populasi dunia, seluruh benua, samudera, dan lautan. Lebih dari 100 juta orang akan berpartisipasi dalam perang ini. Total kehilangan penduduk mungkin melebihi beberapa ratus juta orang. Oleh karenanya, semua orang jujur di Bumi ini, termasuk mereka yang membentuk koalisi ‘egois’, harus melakukan segala hal yang mereka mampu untuk mencegah itu terjadi. Untuk itu, kita harus meredakan ketamakan para gembong sektor finansial nasional dan transnasional dengan kekuatan hukum atau metode lain. Kita harus menghentikan politisi mereka yang ambisius, tamak, tak tahu malu, dan terkadang bodoh. Ini hanya bisa dilakukan atas dasar upaya konsolidasi internasional,” ringkas sang pakar.

source:http://newcaliphateorder.wordpress.com

0 Sedekah Pendinding Api Neraka

sedekah Sedekah Pendinding Api Neraka

BERSEDEKAH, di antara amalan sunat yang dianjurkan dan digalakkan kepada umat Islam, tidak kira status atau taraf hidup mereka. Malah amalan mulia ini bukan hanya kepada orang-orang kaya, tetapi mereka yang berpendapatan rendah juga disarankan melakukannya, menurut kadar kemampuan masing-masing.
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda : Tangan yang di atas (orang yang memberi) itu lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang menerima).
Apatah lagi dalam kita melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadan, yang merupakan bulan rahmat, bulan keampunan, bulan diturunkan di dalamnya al-Quran, bulan jihad dan bulan dilipatgandakan ganjaran pahala.
Oleh kerana hari ini genap 25 hari kita berpuasa, maka masih tidak terlambat lagi untuk merebut ganjaran pahala daripada amalan sedekah sempena bulan penuh keberkatan ini.
Sayangnya amalan bersedekah ini semacam bermusim, hatta pada bulan Ramadan jika dibandingkan dengan bulan-bulan lain.
Semoga panduan dan pesanan daripada Ketua Unit Syariah dan Penerangan, Pusat Pungutan Zakat, Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan, Ahmad Shukri Yusoff yang ditemui baru-baru ini, dapat dijadikan bimbingan bersama.
Soalan : Apakah pengertian sedekah dan terangkan bentuk-bentuk sedekah sebagaimana yang disarankan oleh Islam?
Jawapan : Sedekah itu berasal daripada perkataan bahasa Arab, iaitu as-Sadakah : benar. Jadi apabila kita sebut tentang keimanan mahupun keyakinan kepada janji Allah s.w.t., sudah tentu di sana perlu kepada pembuktian.
Jelaslah sedekah itu adalah sebagai bentuk pembuktian kepada kebenaran iman kita dengan mengeluarkan sebahagian daripada harta kita yang Allah s.w.t. kurniakan. Malah apabila kita menyebut sedekah ini, hukumnya sunat, berbeza dengan nazar dan zakat.
Pun begitu, apabila kita menyentuh tentang bentuk-bentuk sedekah, segolongan orang miskin di kalangan sahabat telah mendatangi Baginda lalu bertanya: “Ya Rasulullah orang kaya telah menguasai segala pahala kebaikan, mereka sembahyang, puasa seperti yang kami lakukan.
Malah mereka mampu pula bersedekah dengan kelebihan harta mereka sedangkan kami tidak boleh?” Jawab Baginda: Tidakkah Allah telah membuatkan untuk kamu semua itu sesuatu yang kamu boleh sedekahkan. (Riwayat Muslim)
Di dalam hadis ini, Nabi hendak menceritakan tentang bentuk-bentuk sedekah yang disebut di dalam hadis ini, iaitu Sesungguhnya bertasbih itu merupakan sedekah dan setiap takbir juga merupakan sedekah, tahmid dan tahlil juga adalah bentuk sedekah.
Selain itu, setiap perkara atau perintah untuk membuat makruf, melarang orang membuat mungkar, itu juga adalah sedekah. Bersama atau bergaul dengan isteri, itu juga dikira sedekah.
Apabila sampai kepada soalan bersama dengan isteri, maka sahabat bertanya lagi:
“Adakah kami mendatangi isteri kami ini juga dikatakan sebagai satu bentuk sedekah? Lantas jawab Baginda: Apabila kamu mendatangi isteri kamu dan menunaikan hajat kamu, maka kamu akan mendapat pahala tetapi jika kamu mendatangi wanita lain yang bukan isteri kamu, sudah tentu ini merupakan satu bentuk dosa.
Hadis ini sebenarnya juga tidak bermaksud, apabila kita melakukan perkara-perkara di atas, menandakan kita sudah terlepas daripada melaksanakan tanggungjawab bersedekah.
Gembira
Apa yang Rasulullah ingin tegaskan di sini, hanya sebagai satu berita gembira kepada orang yang tidak berkemampuan melakukan sedekah kebendaan.
Pun begitu, makna sedekah yang sebenar-benarnya mengikut takrif ajaran Islam, ialah dalam bentuk harta, duit, aset dan sebagainya.
Mengapakah sedekah ini perlu dalam bentuk harta? Ini kerana kalau sebut sahaja harta, duit, barangan atau aset, pastinya ia adalah sesuatu yang amat berharga dan amat disayangi. Berbeza kalau kita kita bersedekah dengan tenaga. Ia diumpamakan seperti tidak ada sebarang makna atau nilai.
Selain itu, perkataan sedekah jika bersandarkan kepada al-Quran dan hadis, sebenarnya ia dalam bentuk harta. Ini ditekankan lagi, apabila Nabi s.a.w. membuat contoh, bersedekahlah kamu walaupun dengan separuh daripada tamar.
Nabi menggunakan benda, ini menjelaskan bahawa sedekah dalam konsep Islam ialah harta benda tanpa menafikan sedekah dalam bentuk-bentuk lain.
Segelintir berpendapat, sekiranya sedekah itu sunat, maka pekerjaan ini boleh dibuat ataupun ditinggalkan. Adakah begitu juga kepada amalan bersedekah?
Itu memanglah betul tetapi sebenarnya di dalam hidup kita, kalau boleh kita hendak mencapai darjat yang paling tinggi di sisi Allah s.w.t.
Hakikatnya, tawaran syurga yang Allah berikan kepada kita itu, terdapat banyak pintu, di antaranya Babus Sadakah iaitu Pintu Sedekah. Jadi mudah-mudahan, jika sedekah ini kita dapat jadikan sebagai satu budaya di dalam kehidupan, insya-Allah kita akan berpeluang masuk melalui pintu ini.
Diseru
Hal ini diperkukuhkan dengan hadis sabda Rasulullah s.a.w. bermaksud: Sesiapa yang membelanjakan sepasang kuda, unta atau sebagainya untuk digunakan dalam perjuangan di jalan Allah, maka namanya diseru dari dalam Syurga:
”Wahai hamba Allah! Pintu ini adalah lebih baik. Sesiapa yang tergolong dari kalangan ahli sembahyang (orang yang sempurna sembahyangnya) maka dia diseru dari Bab Solat (pintu sembahyang). Sesiapa yang tergolong dari kalangan ahli Jihad (orang yang berjuang di jalan Allah), maka dia diseru dari Bab Jihad (pintu jihad). Sesiapa yang tergolong dari kalangan ahli Sadaqah (orang yang suka bersedekah), maka dia diseru dari Bab Sadaqah (pintu sedekah) dan sesiapa yang tergolong dari golongan orang yang suka berpuasa, maka dia akan diseru dari Bab Ar-Rayyan (pintu Ar-Rayyan).”
Abu Bakar As-Siddiq bertanya: ”Wahai Rasulullah! Adakah setiap orang semestinya akan diseru dari pintu-pintu tersebut. Adakah tidak mungkin seseorang itu diseru dari kesemua pintu? Rasulullah s.a.w. bersabda: Benar! Aku berharap bahawa engkau termasuk di antara orang yang namanya diseru dari semua pintu. (Riwayat Muslim)
Keutamaan bersedekah adalah lebih digalakkan pada bulan Ramadan berbanding bulan-bulan lain. Apakah keistimewaannya bersedekah pada bulan ini?
Rasulullah s.a.w. ditanya: “Wahai Rasulullah, apakah bentuk sedekah yang paling afdal?” Jawab Baginda: Kamu bersedekah dalam bulan Ramadan. (Riwayat Muslim)
Bulan Ramadan ini banyak keistimewaannya; Pertama, ia adalah nas, Rasulullah bersabda: Kelebihan orang yang bersedekah dalam bulan Ramadan ini, ia umpama satu akademik untuk melatih.
Apatah lagi, tujuan yang paling besar daripada ibadah Ramadan ini sebagaimana yang ditegaskan di dalam surah al-Baqarah ayat 183 bermaksud: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Jadi, di antara bentuk bukti ketakwaan itu ialah sekiranya berharta, maka diinfakkan atau disedekahkan.
Amalan
Kedua, amalan sunat sepanjang sebulan pada bulan Ramadan ini, diletakkan oleh Allah seolah-olah dia melakukan perkara-perkara wajib. Pahala itu memang berbeza. Manakala, perkara wajib pula, digandakan sebanyak 70 kali.
Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. dalam sebuah hadis bermaksud: Menunaikan perkara-perkara sunat dalam bulan Ramadan dikira melakukan perkara fardu di bulan yang lain. Manakala, melaksanakan satu kefarduan sepanjang bulan ini, adalah seolah-olah melakukan 70 kefarduan pada bulan lain.
Selain itu, Ramadan seringkali juga dikaitkan dengan pekerjaan-pekerjaan untuk menolong dan meringankan bebanan orang susah. Tambahan pula Baginda menggelarkan bulan Ramadan sebagai `shahrul musawah’ atau bulan prihatin.
Di samping itu, sabda Rasulullah: Kalau manusia tahu kelebihan Ramadan, nescaya mereka mahu setiap tahun itu Ramadan.
Di dalam hadis lain pula diterangkan, daripada Jabir, katanya, “Apabila akhir malam Ramadan, maka menangis langit dan bumi, dan malaikat kerana musibah yang menimpa umat Muhamad.” Lalu para sahabat bertanya, Apakah musibah itu?” Kata Nabi s.a.w. “Kerana perginya Ramadan. Doa di dalam bulan Ramadan adalah mustajab, sedekah diterima, kebaikan digandakan dan azab pula ditolak.
Kategori penerima yang bagaimanakah layak menerima pemberian sedekah serta apakah aspek yang menjadi keutamaan dalam amalan ini?
Dalam hal ini sedekah yang paling perlu kita berikan ialah kepada kaum kerabat kita. Mengapa Nabi sebutkan begitu? Menurut Baginda, apabila kita memberi kepada kaum kerabat, kita akan memperoleh dua pahala, iaitu pahala menghubungkan silaturahim dan kedua, pahala sedekah itu sendiri.
Juga ditegaskan di sini, supaya kita tidak sekadar melihat orang jauh tetapi melihat mereka yang rapat dengan kita, seperti ibu bapa, adik-beradik, bapa atau emak saudara, sepupu. Ini juga tidak bermaksud kita tidak perlu membantu orang jauh tetapi janganlah sehingga meminggirkan orang yang terdekat dengan kita.
Saranan
Bayangkan sekiranya semua umat Islam melakukan seperti saranan Rasulullah, insya-Allah tidaklah kesusahan yang wujud membawa kepada kehidupan yang melarat sehingga tidak cukup makan dan minum atau perkara-perkara asas di dalam kehidupan.
Di samping itu, mereka yang bersedekah ini, Allah s.w.t. janjikan kepadanya syurga dan merupakan pendinding daripada api neraka, dan amalan ini juga dapat menjinakkan hati kita sekali gus membuang sifat kesombongan yang wujud di dalam diri.
Ia sebagaimana sabda Nabi s.a.w. bermaksud: Sesiapa yang sanggup mendinding dirinya daripada api neraka walaupun dengan (bersedekah) separuh buah kurma, maka hendaklah dia lakukan. (Riwayat Muslim)
Dalam sebuah hadis yang lain daripada Anas, Baginda bersabda bermaksud: Bersedekahlah kamu, sesungguhnya bersedekah itu melepaskan kamu daripada Jahanam.
Begitulah betapa besarnya kelebihan yang akan diperoleh oleh mereka yang bersedekah. Selain itu, bersedekah juga dianjurkan kepada orang lain, sama ada individu atau kumpulan, institusi yang memberikan kita pendidikan serta tidak ketinggalan institusi kebajikan yang sentiasa memerlukan bantuan dan sumbangan para dermawan.
Anjuran bersedekah ini juga digalakkan kepada golongan orang miskin, cuma yang betul-betul Nabi tekankan ialah jangan mengabaikan mereka yang dekat dengan kita, terutamanya anak yatim.
Ia berdasarkan firman Allah s.w.t. dalam surah al-Balad ayat 15 bermaksud: (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat.
Ada hadis yang menyuruh kita bersedekah dengan benda-benda yang elok tetapi yang banyak berlaku sekarang, orang bersedekah dengan benda-benda yang sudah tidak diperlukan lagi?
Seelok-eloknya, apabila kita hendak bersedekah, hendaklah kita memberi benda yang terbaik. Firman Allah bermaksud: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu manafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa sahaja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahui. (Ali Imran: 92)
Mendidik
Ini menjelaskan bahawa al-Quran mendidik manusia supaya menyumbang atau bersedekah dengan apa yang kita sayang untuk mencapai darjat kebaikan. Maka apabila kita bersedekah dengan benda yang tidak kita sayangi atau tidak diperlukan lagi, ia sudah bercanggah dengan kehendak dan suruhan Allah kepada kita untuk bersedekah.
Tidak dinafikan juga ada orang yang bersedekah dengan alasan jika tidak diberikan, ia tetap akan dibuang atau menjadi sampah, jadi satu cara ialah dengan bersedekah dan itulah yang berlaku semasa bencana tsunami melanda beberapa buah negara di Asia Tenggara, apabila mereka menerima pakaian yang sewajarnya dilupuskan.
Di sinilah terletaknya sikap kita yang tidak prihatin dan mengambil peluang di atas nama sedekah itu untuk berbuat sebegitu. Hakikatnya, orang Islam atau saudara sesama Islam ini, mereka mempunyai harga diri. Sudahlah dia berada di dalam keadaan susah, kemudian melihat pula bantuan yang tidak seberapa, ia bukannya dianggap sebagai pertolongan kepada mereka, malah satu bentuk hinaan. Perkara sebegini tidak seharusnya berlaku.
Bagaimana pula halnya mereka yang memberitahu kekurangan barang tersebut sebelum mensedekahkannya dan menyuruh penerima tersebut membuangnya jika mereka tidak menyukainya?

Benda yang hendak disedekahkan itu, mestilah benda yang baik dan boleh dipakai. Sekiranya ia tidak menepati ciri-ciri ini, maka tidak boleh atau tidak sesuai atau tidak menepati ciri barangan untuk dijadikan sedekah.
Ia bersesuaian dengan sebuah kisah yang berlaku pada zaman Rasulullah s.a.w.. Seorang sahabat meninggal dunia, jadi lelaki tersebut menyebut beberapa perkara sebelum kematiannya.
Di antara tiga perkara yang disebut ialah pertama, Alangkah baik kalau banyak. Kedua, alangkah baik kalau baru dan ketiga, alangkah baik kalau semua sekali.
Maksud daripada ‘alangkah baik kalau banyak’ ialah, pada suatu hari dia memimpin seorang buta ke masjid. Kemudian apabila sampai ke masjid dipastikan semua urusan si buta itu tadi selesai. Sebelum kematiannya, dia nampak pahala daripada bantuannya. Sebab itulah perasaan terkilannya diluahkan dengan kata-kata tersebut.
Sementara luahan ‘alangkah baik kalau baru’ pula dikaitkan dengan bantuannya memberikan baju sejuk yang lama kepada seorang sahabat sewaktu menuju ke masjid. Sedangkan baju yang baru, ia pakai.
Begitu juga dengan kekesalan yang ketiga, iaitu sewaktu rumahnya didatangi oleh seorang miskin yang meminta makanan. Kebetulan di rumahnya ada sekeping roti, jadi diberikan separuh daripadanya sahaja. Pemberian separuh itulah menimbulkan penyesalannya kerana tidak diberikan kesemua roti itu.
Itulah yang dikatakan nilai kebaikan atau nilai sedekah yang perlu manusia buat di dalam kehidupan.
Adakah kisah-kisah yang boleh dikongsikan dengan pembaca mengenai sejarah Nabi bersedekah pada bulan puasa?
Tidak ada disebut secara tepat, cuma dibayangkan pada bulan puasa ini ialah sifat pemurah Baginda sebagaimana diceritakan oleh Aisyah: “Seperti angin yang bertiupan.” Buktinya sehinggakan Baginda tidak meninggalkan sebarang harta selepas pemergiannya.
Sekarang ini, sikap prihatin, sedih dan insaf tidak cukup. Selain itu, seseorang mestilah bertindak mengambil sesuatu langkah yang diperlukan. Barulah ada maknanya rasa kasihan dan sedih.
Rasulullah s.a.w. ada menyebut mengenai suruhan dan galakan bersedekah, sebagaimana Baginda bersabda yang maksudnya:
Mana-mana orang mukmin yang memberi makanan kepada seorang mukmin yang lain kerana kelaparan, maka Allah akan memberi makanan kepadanya pada Hari Kiamat daripada buah-buahan Syurga. Dan mana-mana orang mukmin yang memberi minuman kepada seorang mukmin yang lain kerana kehausan, maka Allah akan memberi minuman kepadanya pada Hari Kiamat daripada tamar Syurga yang termetri bekasnya.
Dan mana-mana orang mukmin yang memberi pakaian kepada seorang mukmin yang lain kerana tidak berpakaian, maka Allah akan memberi pakaian kepadanya daripada pakaian Syurga yang berwarna hijau. (Riwayat Tirmizi dan Abu Daud). Sila huraikan maksud hadis ini?
Di dalam konteks hadis Ibnu Khuzaimah, Rasulullah bersabda: Sesiapa yang memberi orang berpuasa, makanan untuk berbuka puasa. Istilah `sha-iman’ iaitu orang berpuasa, ia umum tidak mengira orang yang kaya ataupun miskin.
Cuma sekiranya, kita pasti ada orang yang susah dan ada orang yang kaya, tentulah kita memberi kepada orang susah dan itu adalah lebih afdal.
Pun begitu, kalau diambil konteks hadis di atas ialah umum, maka makanan tersebut boleh diberi kepada sesiapa sahaja yang berpuasa tidak kira apa taraf hidup mereka.
Bagaimanakah amalan bersedekah ini boleh kita jadikan satu bentuk kebiasaan atau menjadi budaya dan tidak hanya popular atau semarak pada bulan Ramadan?
Bulan Ramadan orang mengejar kepada ganjaran pahalanya yang berlipat kali ganda tetapi sebenarnya, kehidupan kita ini bukan hanya di dalam satu bulan ini sahaja.
Sepatutnya bulan ini dijadikan satu masa atau tempoh latihan, tarbiah atau pendidikan. Malah ia tidak terbatas kepada sedekah sahaja tetapi amalan-amalan sunat yang lain seperti qiamullail, tadarus al-Quran, berbuat baik dan banyak lagi.
Bagi saya dan menerusi penelitian sendiri, tempoh 30 hari ini, cukup untuk menjadikan bersedekah itu satu budaya kepada kita tetapi dengan syarat, ditanamkan kesungguhan, keazaman dan niat yang ikhlas.
Soal sedekah ini payah dilakukan kerana ia melibatkan satu sumbangan benda yang kita sayangi. Berbeza dengan amalan lain seperti sembahyang, berzikir, bantuan tenaga dan lainnya. Apatah lagi, pulangan daripada sedekah ini tidak nampak dengan mata kasar.
Hakikatnya, apabila kita bersedekah, harta kita bertambah. Inilah janji Allah kepada mereka yang melaksanakannya sejajar dengan hadis Baginda bermaksud: Ya Allah, berikanlah orang yang menginfakkan harta mereka dan bersedekah itu balasannya. Doa ini bukan sahaja daripada orang miskin tetapi doa malaikat itu sendiri.
Bagaimana pula dengan sindiket-sindiket tertentu yang menggunakan penipuan dalam meminta sedekah?
Apabila kita bersedekah, ganjaran pahalanya tetap diperoleh. Pernah berlaku pada zaman Nabi, orang bersedekah kepada penzina, orang kaya dan pencuri. Ramai kalangan sahabat mempersoalkannya. Malah Nabi membenarkannya dengan harapan melalui pemberian sedekah tersebut ia membantu mengubah mereka ke arah yang lebih baik.
Barangkali sedekah ini agak sukar dilakukan kerana syaitan sentiasa membisikkan kepada manusia bahawa dengan bersedekah kamu akan fakir.
Kita mungkin tidak terfikir sehingga ke tahap miskin tetapi `habis duit aku’. Itu sebenarnya bisikan syaitan, sedangkan banyak janji Allah bagi orang yang banyak melakukan sedekah sehingga dengan melakukannya, ia boleh memadamkan kemarahan dan kemurkaan Allah.
Selain itu juga, sedekah juga membina akhlak manusia itu. Ia bukan sekadar bercakap baik tetapi akhlak pun baik, dan ia perlu datang dari hati. Oleh itu, hati ini kita kena pupuk, termasuklah membuangkan rasa cinta pada dunia dengan jalan bersedekah.

search

YANG NYASAR DI BLOG