Pages

Selasa, 27 September 2011

0 Semboyan Negara – negara di Dunia

• Republik Afrika Tengah: Unité, Dignité, Travail (b. Perancis, “Unity,
Dignity, Work”), “Kesatuan, Martabat, Kerja”
• Algeria: بالشعب و للشعب (b. Arab, “By the people and for the people”), “Oleh rakyat dan untuk rakyat”
• Andora: Virtus, Unita, Fortior (b. Latin, “Strength united is stronger”), “Kekuatan yang bersatu akan lebih kuat”
• Antigua dan Barbuda: Each endeavouring, all achieving, “Masing-masing berusaha, semua berhasil”
• Argentina: En Unión y Libertad (b. Spanyol, “In Union and Liberty”), “Dalam persatuan dan kemerdekaan
• Armenia: Մեկ Ազգ , Մեկ Մշակույթ (b. Armenia, One Nation, One Culture), “Satu bangsa, satu budaya
• Aruba: One Happy Island. “Pulau bahagia”
• Amerika Serikat: E pluribus unum (b. Latin, “Out of many, one”), “Dari yang banyak, muncullah yang satu” dan In God We Trust (b. Inggris) Kepada Tuhan Kami Percaya
• Australia: tidak ada
• Australian Capital Territory: For the Queen, the law and the people (b. Inggris) Demi Sang Ratu, hukum dan rakyat
• New South Wales: Orta recens quam pura nites (b. Latin, “Newly risen, how brightly you shine”), “Yang baru terbit, engkau bersinar cemerlang”
• Northern Territory: tidak ada
• Queensland: Audax at fidelis (b. Latin, “Bold but faithful”), “Berani namun setia”
• South Australia: United for the common wealth (b. Inggris), “Bersatu untuk kesejahteraan bersama”
• Tasmania: Ubertas et fidelitas (b. Latin, “Fertility and faithfulness”), “Kesuburan dan kesetiaan”
• Victoria: Peace and Prosperity (b. Inggris), “Damai dan makmur”
• Western Australia: Cygnis Insignis (b. Latin, “Distinguished by its swans”), “Berbeda karena angsa-angsanya”
• Austria: tak ada. Sebelumnya AEIOU, kemungkinan merupakan singkatan untuk Austriae est imperare orbi universo (b. Latin, “It is
• Austria’s destiny to rule the world”), “Austria ditakdirkan menguasai dunia”
• Austria-Hongaria: Indivisibiliter ac Inseparabiliter (b.Latin, “Indivisible and inseparable”), “Bersatu dan tak terpisahkan”
• Azerbaijan: Once raised flag will never go down, “Sekali bendera dikibarkan, tak akan diturunkan”
B
• Bahamas: Forward, Upward, Onward Together, “Maju terus, Meningkat terus”
• Bangladesh: tak ada
• Barbados: Pride and Industry, “Kebanggaan dan Kerajinan”
• Belanda: Je maintiendrai (b. Perancis, “I will maintain”), “Saya akan
mempertahankan”
• Zeeland: Luctor et Emergo, Ik worstel en kom boven (b. Latin, b. Belanda, “I struggle and emerge”, “Aku berjuang dan menang”)
• Zuid Holland: Vigilate Deo Confidentes, Waakt vertrouwende op God (b. Latin, b. Belanda, “Berjaga sambil percaya kepada Tuhan”)
Groningen Vis unita fortior, Vereende kracht is sterker (b. Latin, b.
• Belanda: “Kekuatan dalam persatuan akan lebih kuat”)
• Antillen Belanda: Libertate unanimus (b.Latin, “Unified by freedom”, “Dipersatukan oleh kemerdekaan”)
• Belarus: tak ada
• Belgia: Eendracht maakt macht, L’union fait la force dan Einigkeit gibt Stärke (b. Belanda, b. Perancis dan b. Jerman, “Unity gives Strength”), “Bersatu teguh”
• Belize: Sub umbra floreo (b. Latin, “Under the shade I flourish”), “Di bawah bayangan aku bertumbuh”
• Benin: Fraternité, Justice, Travail (b. Perancis, “Fellowship, Justice, Labour”), “Persaudaraan, Keadilan, Kerja”
• Bhutan: One Nation, One People, “Satu negara, satu bangsa”
• Bolivia: La Unión es la Fuerza (b. Spanyol, “The Union is Strength”)
Bosnia dan Herzegovina: tak ada
• Botswana: Pula (b. Tswana, “Rain”), “Hujan”
• Motto nasional Brasil, Ordem e progresso (”Keteraturan dan kemajuan”), tertulis pada bendera.
• Brasil: Ordem e progresso (b. Portugis, “Order and progress”), “Keteraturan dan kemajuan”
• Negara bagian São Paulo: Pro Brasilia fiant eximia (b.Latin, “For Brazil do the best”), “Demi Brasil, lakukan yang terbaik”
• São Paulo City: Non ducor duco (b. Latih, “I am not led, I lead”), “Aku tidak dipimpin, aku memimpin”

• Minas Gerais : Libertas quæ sera tamen (b. Latin, “Liberty even when it comes late”), “Kemerdekaan, walaupun terlambat”
• Britania Raya: Dieu et mon droit (b. Perancis, “God and my right”) Tuhan dan hak-ku
• Skotlandia: Nemo me impune lacessit (b. Latin, “No one provokes me with impunity”) Tidak seorangpun dapat menggangguku tanpa dihukum
• Wales: Ich Dien (b. Jerman, “I serve” – motto pangeran) Aku melayani
Y ddraig goch ddyry cychwyn (b. Wales, “The red dragon inspires action”), “Naga merah mengilhami aksi”
• Cymru am byth (b. Wales, “Wales for ever” – tidak resmi) Wales selamanya
• Anguilla: Strength and Endurance, “Kekuatan dan kegigihan”[19]
• Bermuda: Quo Fata Ferunt (b. Latin, “Whither the Fates carry [us]“), “Ke manapun nasib membawa [kita]”
• Teritorial Britania di Samudra Hindia: In tutela nostra Limuria (b. Latin, “Limuria is in our charge”), “Limuria berada dalam tanggung jawab kita”
• Kepulauan Virgin Britania: Vigilate (b. Latin, “Be Watchful”), “Waspadalah”[20]
• Gibraltar: Nulli expugnabilis hosti (b. Latin, “Conquered by no enemy”) “Tidak tertaklukkan musuh”
• Pulau Man: Quocunque jeceris stabit (b. Latin, “Whithersoever you throw it, it will stand”), “Di manapun juga ia ditempatkan, ia akan tegak”
• Kepulauan Cayman: He hath founded it upon the seas (b. Inggris), “Ia telah mendirikannya di lautan”
• Kepulauan Falkland: Desire the right (b. Inggris) Dambakan yang benar
• Montserrat: Each Endeavouring, All Achieving
• Saint Helena: Loyal and Unshakeable, “Setia tak tergoyahkan”
• Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan: Leo Terram Propriam Protegat (b. Latin, “Let the lion protect its own land”), “Biarkan singa melindungi tanahnya sendiri”
• Tristan da Cunha: Our faith is our strength, “Iman kita adalah kekuatan kita”
• Kepulauan Turks dan Caicos: One people, one nation, one destiny, “Satu bangsa, satu negara, satu tujuan
• Brunei: Always in service with God’s guidance, “Selalu menuruti arahan Tuhan”
• Bulgaria: Съединението прави силата (b. Bulgaria, “Strength through Unity”), “Kekuatan melalui Persatuan”
• Burkina Faso: Unité, Progrès, Justice (b. Perancis, “Unity, Progress, Justice”), “Kesatuan, Kemajuan, Keadilan”
• Burundi: Unité, Travail, Progrès (b. Perancis, “Unity, Work, Progress”), “Kesatuan, Kerja, Kemajuan”
C
• Ceko: Pravda vítězí! (b. Ceko, “Truth prevails!”), “Kebenaran akan menang!”
• Chad: Unité, Travail, Progrès (b. Perancis, “Unity, Work, Progress”), “Kesatuan, Kerja, Kemajuan”
• Chili: Por la razón o la fuerza (b. Spanyol, “Oleh nalar atau oleh kekuatan “)
sebelumnya Post Tenebras Lux (b.Latin, “Habis gelap, terbitlah terang “)
sebelumnya Aut concilio, aut ense (b.Latin, “Oleh nalar atau oleh pedang “)
D
• Denmark: Guds hjælp, Folkets kærlighed, Danmarks styrke (b.
• Denmark: “God’s help, the love of the people, Denmark’s strength”), “Pertolongan Tuhan, rasa cinta rakyat, (adalah) kekuatan Denmark”
• Djibouti: Unity, Equality, Peace, “Kesatuan, Kesetaraan, Perdamaian”
• Dominika: Après le Bondie, C’est la Ter (Bahasa Perancis Patois, “After the Good Lord, we love the Earth”), “Setelah [mencintai] Tuhan yang baik, kami mencintai bumi”
• Republik Dominika: Dios, Patria, Libertad (b. Spanyol, “God, Country, Liberty”), “Tuhan, Negara, Kemerdekaan”
E
• Ekuador: Dios, patria y libertad (b. Spanyol, “God, homeland and liberty”), “Tuhan, tanah air, dan kemerdekaan”
• El Salvador: Dios, Unión, Libertad (b. Spanyol, “God, Union, Liberty”), “Tuhan, Kesatuan, Kemerdekaan”

F
• Fiji: Rerevaka na Kalou ka Doka na Tui (b. Fiji, “Fear God and honour the Queen”), “Takutlah kepada Tuhan, dan hormatilah Ratu”
• Filipina: Maka-Diyos, Makatao, Makakalikasan at Makabansa (b. Tagalog, “For the Love of God, People, Nature and Country”) Untuk Cinta Tuhan, Rakyat, Alam dan Negara
• Sebelumnya Isang bansa, isang diwa (b. Tagalog, “One nation, one spirit”), “Satu negara, satu jiwa”
• Finlandia: tak ada
G
• Gabon: Union, Travail, Justice (b. Perancis, “Union, Work, Justice”), “Kesatuan, Kerja, Keadilan”
• Gambia: Progress, Peace, Prosperity, “Kemajuan, Perdamaian, “Kemakmuran”
• Georgia: ძალა ერთობაშია! (Dzala ertobashia) (b. Georgia, “Strength is in Unity”), “Bersatu teguh”
• Ghana: Freedom and Justice, “Kemerdekaan dan keadilan”
• Grenada: Ever Conscious of God We Aspire, and Advance as One People, “Selalu sadar akan Tuhan, kami berharap dan maju sebagai satu bangsa”
• Guatemala: El País de la Eterna Primavera (b. Spanyol, “The country with the eternal spring”, “Negara dengan musim semi abadi”)[rujukan?]
• Guinea: Travail, Justice, Solidarité (b. Perancis, “Work, Justice, Solidarity”), “Kerja, Keadilan, Solidaritas”
• Guinea-Bissau: Unidade, Luta, Progresso (b. Portugis, “Unity, Struggle, Progress”), “Kesatuan, Perjuangan, Kemajuan”
• Guinea Khatulistiwa: Unidad, Paz, Justicia (b. Spanyol, “Unity, Peace, Justice”), “Kesatuan, Perdamaian, Keadilan”
• Guyana: One people, one nation, one destiny, “Satu bangsa, satu negara, satu tujuan”
H
• Haiti: L’union fait la force (Perancis, “Persatuan adlah kekuatan”)
• Honduras: Libre, Soberana E Independiente(b. Spanyol, “Free, sovereign and independent”), “Merdeka, berdaulat, dan mandiri”
• Hongaria: tak ada, sebelumnya Regnum Mariae Patrona Hungariae (b. Latin, “Kerajaan Maria, Pelindung Hongaria”)
I
• Islandia: tak ada
• India: सत्यमेव जयते (Satyameva Jayate) (b. Sansekerta, “Truth alone triumphs”)
Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika (b. Jawa Kuno, “Berbeda-beda tapi tetap satu”) :D
• Iran: de facto: Esteqlāl, āzādī, jomhūrī-ye eslāmī[47] (b. Persia, “Independence, freedom, (the) Islamic Republic”); “Kemandirian, kemerdekaan, Republik Islam”, de jure: Allaho Akbar (b. Arab, “God is Great”), “Allahu Akbar”
• Irak: الله أكبر (Allahu Akbar) (b. Arab, “God is Great”), “Allahu Akbar”
• Irlandia: Seperti aku yang sebelumnya
• Italia: tak ada
J
• Jamaika: Out of many, one people
• Jepang: tak ada.
• Jerman: Einigkeit und Recht und Freiheit (b. Jerman, “Unity and justice and freedom”), “Persatuan dan keadilan dan kemerdekaan”
• The motto of Kiribati, Te mauri, te raoi ao te tabomoa (”Health, Peace and Prosperity”), tampak pada lambang negara.

K
• Kamboja: Nation, Religion, King, “Negara, Agama, Raja”
• Kamerun: Paix – Travail – Patrie (b. Perancis, “Peace, Work, Fatherland”), “Perdamaian, Kerja, Tanah Air”
• Kanada: A mari usque ad mare (b. Latin, “From sea to sea”), “Dari laut ke laut”
• Alberta: Fortis et liber (b. Latin, “Strong and free”), “Kuat dan merdeka”
• British Columbia: Splendor sine occasu (b. Latin, “Splendour without diminishment”), “Cemerlang tanpa akhir”
• Manitoba: Gloriosus et liber (b. Latin, “Glorious and free”), “Berjaya dan merdeka”
• New Brunswick: Spem reduxit (b. Latin, “Hope was restored”), “Harapan dipulihkan”
• Newfoundland and Labrador: Quaerite primum regnum dei (b. Latin, “Seek ye first the kingdom of God”) Carilah dulu Kerajaan Tuhan
• Northwest Territories: tidak ada
• Nova Scotia: Munit haec et altera vincit (b. Latin, “One defends and the other conquers”), “Satu mempertahankan, yang lain menaklukkan”
• Nunavut: Nunavut sanginivut (Inuktitut, “Nunavut our strength” atau “Our land, our strength”) Tanah kami, kekuatan kami
• Ontario: Ut incepit fidelis sic permanet (b. Latin, “Loyal she began, loyal she remains”) Setia dari mula, setia selalu
• Prince Edward Island: Parva sub ingenti (b. Latin, “The small under the protection of the great”) Yang kecil di bawah perlindungan yang besar
• Quebec: Je me souviens (b. Perancis, “I remember”) Aku kenang
• Saskatchewan: Multis e gentibus vires (b. Latin, “From many peoples, strength”), “Dari banyak orang, muncullah kekuatan”
• Yukon: tidak ada
• Kenya: Harambee (b. Swahili, “Let’s work together”), “Marilah bekerja bersama”
• Kiribati: Te mauri, te raoi ao te tabomoa (b. Kiribati, “Health, Peace and Prosperity”), “Kesehatan, Perdamaian, dan Kemakmuran”
• Kolombia: Libertad y orden (b. Spanyol, “Freedom and order”), “Kemerdekaan dan ketertiban”
• Antioquia: Antioquia nueva: un hogar para la vida (b. Spanyol, “A new
• Antioch: a home for the life”), “Antioquia baru: rumah bagi kehidupan”
• Santander: Siempre Adelante (b. Spanyol, “Always to the front”), “Selalu di depan”
• Komoros: Unité, Justice, Progrès (b. Perancis, “Unity, justice, progress”), “Kesatuan, keadilan, kemajuan”
• Konfederasi Negara-negara Amerika: Deo Vindice (b.Latin, “Under God, Our Vindicator”), “Di bawah Tuhan, Pembela kita”
• Republik Demokratik Kongo: Justice – Paix – Travail (b. Perancis, “Justice, Peace, Work”), “Keadilan, Perdamaian, Kerja”
• Republik Kongo: Unité, Travail, Progrès (b. Perancis, “Unity, Work, Progress”), “Kesatuan, Kerja, Kemajuan
• Korea Selatan: (b. Korea, “Broadly benefit humanity”, “Memberi manfaat yang luas kepada umat manusia”
• Korea Utara: (b. Korea, “Prosperous and great country”), “Negara makmur dan besar”
• Kosta Rika: Vivan siempre el trabajo y la paz (b. Spanyol, “Long live work and peace”), “Hiduplah kerja dan perdamaian”
• Kroasia: tak ada
• Kuba: Patria o muerte (b. Spanyol, “Homeland or death”), “Tanah air atau mati”
• Kuwait: tak ada
L
• Laos: Peace, independence, democracy, unity and prosperity, “Perdamaian, kemerdekaan, demokrasi, kesatuan, dan kemakmuran”
• Latvia: Tēvzemei un Brīvībai (b. Latvia, “For Fatherland and Freedom”), “Demi Tanah Air dan Kemerdekaan”
• Lesotho: Khotso, Pula, Nala (b. Sotho, “Peace, Rain, Prosperity”), “Perdamaian, Hujan, Kemakmuran”
• Lebanon: “All for our nation”, “Semua untuk negara kita”
• Liberia: The love of liberty brought us here, “Cinta akan kemerdekaan telah membawa kita ke sini.”
• Lithuania: Tautos jėga vienybėje! (b. Lithuania, “The strength of the nation is unity!”), “Kekuatan bangsa adalah kesatuan!”
• Luxembourg: Mir wëlle bleiwe wat mir sinn (b. Luxembourgish, “We wish to remain what we are”), “Kita akan tetap seperti apa adanya.”
M
• Madagaskar: Tanindrazana, Fahafahana, Fandrosoana (b. Malagasi, “Ancestral-land, Liberty, Progress”), “Tanah leluhur, Kemerdekaan, Kemajuan”
• Malawi: Unity and Freedom, “Kesatuan dan Kemerdekaan”
• Malaysia: Bersekutu Bertambah Mutu (b. Melayu), “Bersatu Menjadi Kuat”
• Mali: Un peuple, un but, une foi (b. Perancis, “One people, one goal, one faith”), “Satu bangsa, satu tujuan, satu iman”
• Maroko: الله، الوطن، الملك (b. Arab, “God, the Country, the King”), “Tuhan, Negara, Raja”
• Mauritania: شرف إخاء ع atau Honneur, Fraternité, Justice (b. Arab dan b. Perancis, “Honor, Fraternity, Justice”), “Kehormatan, Persaudaraan, Keadilan”
• Mauritius: Stella Clavisque Maris Indici (Latin, “Star and key of the Indian Ocean”), “Bintang dan Kunci ke Samudra Hindia”
• Monako: Deo juvante (b. Latin, “With God’s help”) “Dengan pertolongan Tuhan”
• Montenegro: tak ada
N
• Namibia: Unity, liberty, justice, “Kesatuan, kemderdekaan, keadilan”
• Nauru: God’s will first, “Kehendak Tuhan diutamakan”
• Nepal: जननी जन्मभूमिष्च स्वर्गादपि गरियसि (b. Sansekerta, “Mother and motherland are greater than heaven”), “Ibu dan Ibu Pertiwi lebih besar daripada surga”
• Nikaragua: En Dios Confiamos (b. Spanyol, “In god we trust”), “Kita percaya kepada Tuhan”
• Niger: Fraternité, Travail, Progrès (b. Perancis, “Fraternity, Work, Progress”), “Persaudaraan, Kerja, Kemajuan”
• Nigeria: Unity and Faith, Peace and Progress, “Kesatuan dan Iman, Perdamaian dan Kemajuan”
• Pulau Norfolk: Inasmuch, “Sejauh itu”
• Norwegia: tak ada Motto kerajaan: Alt for Norge (b. Norwegia, “All for
Norway”), “Semua untuk Norwegia”
O
• Oman: Tak ad
P
• Pakistan: Yaqeen-mukkam , ittihad , nizam (b. Urdu, “Percaya diri, kesatuan, disiplin”)
• Panama: Pro mundi beneficio (b.Latin, “Untuk manfaat dunia”)
• Pantai Gading: Union, Discipline, Travail (b. Perancis, Unity, Discipline, Labor), “Kesatuan, Disiplin, “Kerja”
• Papua Nugini: Unity in Diversity, “Kesatuan dalam Kepelbagaian”
• Paraguay: Paz y justicia (b.Spanyol, “Peace and justice”, “Perdamaian dan keadilan”)
• Perancis: Liberté, égalité, fraternité (b. Perancis, “Liberty, equality, brotherhood”), “Kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan”
• Perú: Firme y feliz por la unión, (b.Spanyol, “Teguh dan bahagia karena kesatuan”
• Polandia: tak ada
• Portugal: Esta é a ditosa pátria minha amada (b. Portugis , “This is my beloved fortunate motherland”, “Inilah tanah airku yang mujur dan tercinta.”)
• Azores: Antes morrer livres que em paz sujeitos (b. Portugis, “To die free rather than to be subjugated in peace”, “Mati dalam kemerdekaan daripada diperbudak dalam damai”)
• Madeira: Das ilhas, as mais belas e livres (b. Portugis, “Of the islands, the most beautiful and free”, “Dari semua pulau, yang terindah dan bebas”)
Q
• Qatar: tak ada
R
• Republik Romawi dan Kekaisaran Romawi: Senatus Populusque Romanus (b.Latin, “The Roman Senate and people”, sering disingkat SPQR, “Senat dan rakyat Romawi”)
• Rumania: tak ada; dulunya Nihil Sine Deo (b.Latin, “Nothing without God”, “Tak satupun tanpa Tuhan”)
• Rwanda: Unity, Work, Patriotism, “Kesatuan, Kerja, Patriotisme”
S
• Sahara Barat (SADR): حرية ديمقراطية وحدة (Hassānīya b. Arab, “Liberty, Democracy, Unity”), “Kemerdekaan, Demokrasi, Kesatuan”
• Selandia Baru: tak ada
• Singapura: Majulah Singapura (b. Melayu)
• Spanyol: Plus ultra (b. Latin, “Further beyond”), “Lebih jauh lagi”
Sebelumnya (di bawah pemerintahan Francisco Franco) Una, grande y libre (b. Spanyol, “One, great and free”), “Esa, besar dan merdeka”
• Katalonia: Som i serem (b. Katalan, “We are and will be”), “Kami ada dan akan tetap ada”
• Asturias: Hoc Signo tuetur pius, Hoc signo vincitur inimicus (b. Latin, “This sign defends the pious, this sign defeats the enemy”)
• Madrid: De Madrid al cielo (b. Spanyol, “From Madrid to heaven”), “Dari Madrid ke surga”
• Republika Srpska: Samo Sloga Srbina Spasava (b.Serbia), “Hanya Kesatuan yang Menyelamatkan bangsa Serbia”

T
• Tanzania: Uhuru na Umoja (b. Swahili, “Freedom and Unity”), “Kemerdekaan dan Kesatuan”
• Togo: Travail, Liberté, Patrie (b. Perancis, “Work, liberty, homeland”), “Kerja, kemerdekaan, tanah air”
• Timor Timur: Honra, pátria e povo (b. Portugis, “Honour, country and people”), “Kehormatan, negara dan rakyat”
• Tonga: Ko e ʻOtua mo Tonga ko hoku tofiʻa (b. Tonga, “God and Tonga are my Inheritance”), “Tuhan dan Tonga adalah warisanku”
• Trinidad dan Tobago: Together we aspire, together we achieve, “Berjuang bersama, mencapai keberhasilan bersama”
• Tunisia: Order, Freedom, and Justice, “Keteraturan, Kemerdekaan, dan Keadilan”
• Turki: Egemenlik kayıtsız şartsız milletindir. (b. Turki, “Sovereignty rests unconditionally with the nation”), “Kedaulatan bersandar tanpa syarat pada negara ini”
dan Yurtta sulh, cihanda sulh. (b. Turki, “Peace in the homeland, peace in the world.”), “Damai di tanah air, damai di dunia”[92]
• Tuvalu: Tuvalu mo te Atua (b. Tuvalu, “Tuvalu for the Almighty”), “Tuvalu bagi Yang Maha Kuasa”
U
• Uganda: For God and My Country, “Untuk Tuhan dan Negaraku”
• Ukraine: none
• Uni Eropa: In varietate concordia dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa negara anggota.
• Uruguay: Libertad o Muerte (b. Spanyol, “Liberty or Death”), “Merdeka atau Mati”
V
• Vanuatu: Long God yumi stanap (b. Bislama, “Let us stand firm in God”), “Marilah berdiri teguh di dalam Tuhan”
• Venezuela: Amazonas: Honor y Lealtad (b. Spanyol,”Honor and Loyalty”), “Kehormatan dan kesetiaan”
• Anzoátegui: Tumba de sus tiranos (b. Spanyol, “Tomb of its tyrants”), “Kuburan para tiraninya”
• Barinas: Dios y Federación (b. Spanyol, “God and Federation”), “Tuhan dan federasi”
• Carabobo: Ocassus servitutis (Latin, “Decline of the servitude”; tetapi juga: “End of slavery”), “Akhir perhambaan”, tetapi juga “Akhir perbudakan”
• Cojedes: Ad Sum (b. Latin, “I am here”), “Aku di sini”
• Delta Amacuro: La Paz en la Federación (b. Spanyol, “The Peace in the Federation”), “Damai di Federasi”
• Falcón: Dios y Federación (b. Spanyol, “God and Federation”), “Tuhan dan Federasi”
• Guárico: Si amas la libertad, ven a mis pampas (b. Spanyol, “If you love liberty, come to my plains”), “Bila engkau mencintai kemerdekaan, datanglah ke dataranku”
• Monagas: Resistió con valor (b. Spanyol, “It resisted with courage”), “Ia melawan dengan keberanian”
• Portuguesa: Honor y Gloria (b. Spanyol, “Honor and Glory”), “Kehormatan dan Kejayaan”
• Vargas: Igualdad, Libertad, Propiedad y Seguridad (b. Spanyol, “Equality, Liberty, Property -possibly Propriety- and Security”), “Kesetaraan, Kemerdekaan, Hak milik, dan Keamanan”
Vietnam: Ðộc lập, tự do, hạnh phúc (b.Vietnam, “Independence, liberty, and happiness”) Kemerdekaan, kebebasan dan kebahagiaan
Y
• Yemen: tak ada
• Yordania: الله الوطن المليك (Allah, Alwattan, Almaleek) God, country, sovereign (Tuhan, negara, raja) / الاردن اولا (Al Urdun Awallan), Jordan first, “Yordania unggul” (yang pertama adalah yang resmi)
Yunani: Ελευθερια η θανατος (”Eleutheria i thanatos”) (b. Yunani, “Liberty or death”) Merdeka atau Mati
Z
• Zambia: One Zambia, One Nation, “Satu Zambia, Satu Bangsa”
• Zimbabwe: Unity, Freedom, Work, “Kesatuan, Kemerdekaan, Kerja”

0 RELASI ANTARA ISLAM DAN KEBUDAYAAN

Islam adalah agama yang diturunkan kepada manusia sebagai rohmat bagi alam semesta. Ajaran-ajarannya selalu membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia di dunia ini. Allah swt sendiri telah menyatakan hal ini, sebagaimana yang tersebut dalam ( QS Toha : 2 ) : “ Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kapadamu agar kam menjadi susah “. Artinya bahwa umat manusia yang mau mengikuti petunjuk Al Qur’an ini, akan dijamin oleh Allah bahwa kehidupan mereka akan bahagia dan sejahtera dunia dan akherat. Sebaliknya siapa saja yang membangkang dan mengingkari ajaran Islam ini, niscaya dia akan mengalami kehidupan yang sempit dan penuh penderitaan.
Ajaran-ajaran Islam yan penuh dengan kemaslahatan bagi manusia ini, tentunya mencakup segala aspek kehidupan manusia. Tidak ada satupun bentuk kegiatan yang dilakukan manusia, kecuali Allah telah meletakkan aturan-aturannya dalam ajaran Islam ini. Kebudayaan adalah salah satu dari sisi pentig dari kehidupan manusia, dan Islampun telah mengatur dan memberikan batasan-batasannya.Tulisan di bawah ini berusaha menjelaskan relasi antara Islam dan budaya. Walau singkat mudah-mudahan memberkan sumbangan dalam khazana pemikian Islam.
Arti dan Hakekat Kebudayaan
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hal. 149, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan ( adat, akhlak, kesenian , ilmu dll). Sedang ahli sejarah mengartikan kebudaaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life, dan kelakuan. Definisi-definisi tersebut menunjukkan bahwa jangkauan kebudayaan sangatlah luas. Untuk memudahkan pembahasan, Ernst Cassirer membaginya menjadi lima aspek : 1. Kehidupan Spritual 2. Bahasa dan Kesustraan 3. Kesenian 4. Sejarah 5. Ilmu Pengetahuan.
Aspek kehidupan Spritual, mencakup kebudayaan fisik, seperti sarana ( candi, patung nenek moyang, arsitektur) , peralatan ( pakaian, makanan, alat-alat upacara). Juga mencakup sistem sosial, seperti upacara-upacara ( kelahiran, pernikahan, kematian )
Adapun aspek bahasa dan kesusteraan mencakup bahasa daerah, pantun, syair, novel-novel.
Aspek seni dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu ; visual arts dan performing arts, yang mencakup ; seni rupa ( melukis), seni pertunjukan ( tari, musik, ) Seni Teater ( wayang ) Seni Arsitektur ( rumah,bangunan , perahu ). Aspek ilmu pengetahuan meliputi scince ( ilmu-ilmu eksakta) dan humanities ( sastra, filsafat kebudayaan dan sejarah ).
Hubungan Islam dan Budaya
Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara agama ( termasuk Islam ) dengan budaya, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini : mengapa manusia cenderung memelihara kebudayaan, dari manakah desakan yang menggerakkan manusia untuk berkarya, berpikir dan bertindak ? Apakah yang mendorong mereka untuk selalu merubah alam dan lingkungan ini menjadi lebih baik ?
Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya merupakan dinamik ilahi. Bahkan menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insani yang berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain daripada proses realisasidiri dari roh ilahi. Sebaliknya sebagian ahli, seperti Pater Jan Bakker, dalam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, bahwa agama merupakan keyakinan hidup rohaninya pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakan pemberian dari Tuhan, sedang kebudayaan merupakan karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan. Adapun menurut para ahli Antropologi, sebagaimana yang diungkapkan oleh Drs. Heddy S. A. Putra, MA bahwa agama merupakan salah satu unsur kebudayaan. Hal itu, karena para ahli Antropologi mengatakan bahwa manusia mempunyai akal-pikiran dan mempunyai sistem pengetahuan yang digunakan untuk menafsirkan berbagai gejala serta simbol-simbol agama. Pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakekat dari ayat-ayat dalam kitab suci masing- masing agama. Mereka hanya dapat menafsirkan ayat-ayat suci tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada.
Di sinilah, , bahwa agama telah menjadi hasil kebudayaan manusia. Berbagai tingkah laku keagamaan, masih menurut ahli antropogi,bukanlah diatur oleh ayat- ayat dari kitab suci, melainkan oleh interpretasi mereka terhadap ayat-ayat suci tersebut.
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa para ahli kebudayaan mempunyai pendapat yang berbeda di dalam memandang hubungan antara agama dan kebudayaan. Kelompok pertama menganggap bahwa Agama merupakan sumber kebudayaaan atau dengan kata lain bahwa kebudayaan merupakan bentuk nyata dari agama itu sendiri. Pendapat ini diwakili oleh Hegel. Kelompok kedua, yang di wakili oleh Pater Jan Bakker, menganggap bahwa kebudayaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. Dan kelompok ketiga, yeng menganggap bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.
Untuk melihat manusia dan kebudayaannya, Islam tidaklah memandangnya dari satu sisi saja. Islam memandang bahwa manusia mempunyai dua unsur penting, yaitu unsur tanah dan unsur ruh yang ditiupkan Allah kedalam tubuhnya. Ini sangat terlihat jelas di dalam firman Allah Qs As Sajdah 7-9 : “ ( Allah)-lah Yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menciptakan keturunannya dari saripati air yan hina ( air mani ). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam ( tubuh )-nya roh ( ciptaan)-Nya “
Selain menciptakan manusia, Allah swt juga menciptakan makhluk yang bernama Malaikat, yang hanya mampu mengerjakan perbuatan baik saja, karena diciptakan dari unsur cahaya. Dan juga menciptakan Syetan atau Iblis yang hanya bisa berbuat jahat , karena diciptkan dari api. Sedangkan manusia, sebagaimana tersebut di atas, merupakan gabungan dari unsur dua makhluk tersebut.
Dalam suatu hadits disebutkan bahwa manusia ini mempunyai dua pembisik ; pembisik dari malaikat , sebagi aplikasi dari unsur ruh yang ditiupkan Allah, dan pembisik dari syetan, sebagai aplikasi dari unsur tanah. Kedua unsur yang terdapat dalam tubuh manusia tersebut, saling bertentangan dan tarik menarik. Ketika manusia melakukan kebajikan dan perbuatan baik, maka unsur malaikatlah yang menang, sebaliknya ketika manusia berbuat asusila, bermaksiat dan membuat kerusakan di muka bumi ini, maka unsur syetanlah yang menang. Oleh karena itu, selain memberikan bekal, kemauan dan kemampuan yang berupa pendengaran, penglihatan dan hati, Allah juga memberikan petunjuk dan pedoman, agar manusia mampu menggunakan kenikmatan tersebut untuk beribadat dan berbuat baik di muka bumi ini.
Allah telah memberikan kepada manusia sebuah kemampuan dan kebebasan untuk berkarya, berpikir dan menciptakan suatu kebudayaan. Di sini, Islam mengakui bahwa budaya merupakan hasil karya manusia. Sedang agama adalah pemberian Allah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Yaitu suatu pemberian Allah kepada manusia untuk mengarahkan dan membimbing karya-karya manusia agar bermanfaat, berkemajuan, mempunyai nilai positif dan mengangkat harkat manusia. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dengan demikian, Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Dan dalam satu waktu Islamlah yang meletakkan kaidah, norma dan pedoman. Sampai disini, mungkin bisa dikatakan bahwa kebudayaan itu sendiri, berasal dari agama. Teori seperti ini, nampaknya lebih dekat dengan apa yang dinyatakan Hegel di atas.
Sikap Islam terhadap Kebudayaan
Islam, sebagaimana telah diterangkan di atas, datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.
Prinsip semacam ini, sebenarnya telah menjiwai isi Undang-undang Dasar Negara Indonesia, pasal 32, walaupun secara praktik dan perinciannya terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok. Dalam penjelasan UUD pasal 32, disebutkan : “ Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Idonesia “.
Dari situ, Islam telah membagi budaya menjadi tiga macam :
Pertama : Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam.
Dalam kaidah fiqh disebutkan : “ al adatu muhakkamatun “ artinya bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yang merupakan bagian dari budaya manusia, mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum. Tetapi yang perlu dicatat, bahwa kaidah tersebut hanya berlaku pada hal-hal yang belum ada ketentuannya dalam syareat, seperti ; kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat Aceh, umpamanya, keluarga wanita biasanya, menentukan jumlah mas kawin sekitar 50-100 gram emas. Dalam Islam budaya itu syah-syah saja, karena Islam tidak menentukan besar kecilnya mahar yang harus diberikan kepada wanita. Menentukan bentuk bangunan Masjid, dibolehkan memakai arsitektur Persia, ataupun arsitektur Jawa yang berbentuk Joglo.
Untuk hal-hal yang sudah ditetapkan ketentuan dan kreterianya di dalam Islam, maka adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat tidak boleh dijadikan standar hukum. Sebagai contoh adalah apa yang di tulis oleh Ahmad Baaso dalam sebuah harian yang menyatakan bahwa menikah antar agama adalah dibolehkan dalam Islam dengan dalil “ al adatu muhakkamatun “ karena nikah antar agama sudah menjadi budaya suatu masyarakat, maka dibolehkan dengan dasar kaidah di atas. Pernyataan seperti itu tidak benar, karena Islam telah menetapkan bahwa seorang wanita muslimah tidak diperkenankan menikah dengan seorang kafir.
Kedua : Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam , kemudian di “ rekonstruksi” sehingga menjadi Islami.Contoh yang paling jelas, adalah tradisi Jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam , seperti lafadh “ talbiyah “ yang sarat dengan kesyirikan, thowaf di Ka’bah dengan telanjang. Islam datang untuk meronstruksi budaya tersebut, menjadi bentuk “ Ibadah” yang telah ditetapkan aturan-aturannya. Contoh lain adalah kebudayaan Arab untuk melantukan syair-syair Jahiliyah. Oleh Islam kebudayaan tersebut tetap dipertahankan, tetapi direkonstruksi isinya agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Ketiga: Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam.
Seperti, budaya “ ngaben “ yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Yaitu upacara pembakaran mayat yang diselenggarakan dalam suasana yang meriah dan gegap gempita, dan secara besar-besaran. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yang meninggal supaya kembali kepada penciptanya. Upacara semacam ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Kalimantan Tengah dengan budaya “tiwah“ , sebuah upacara pembakaran mayat. Bedanya, dalam “ tiwah” ini dilakukan pemakaman jenazah yang berbentuk perahu lesung lebih dahulu. Kemudian kalau sudah tiba masanya, jenazah tersebut akan digali lagi untuk dibakar. Upacara ini berlangsung sampai seminggu atau lebih. Pihak penyelenggara harus menyediakan makanan dan minuman dalam jumlah yang besar , karena disaksikan oleh para penduduk dari desa-desa dalam daerah yang luas. Di daerah Toraja, untuk memakamkan orang yan meninggal, juga memerlukan biaya yang besar. Biaya tersebut digunakan untuk untuk mengadakan hewan kurban yang berupa kerbau. Lain lagi yang dilakukan oleh masyarakat Cilacap, Jawa tengah. Mereka mempunyai budaya “ Tumpeng Rosulan “, yaitu berupa makanan yang dipersembahkan kepada Rosul Allah dan tumpeng lain yang dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul yang menurut masyarakat setempat merupakan penguasa Lautan selatan ( Samudra Hindia ).
Hal-hal di atas merupakan sebagian contoh kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga umat Islam tidak dibolehkan mengikutinya. Islam melarangnya, karena kebudayaan seperti itu merupakan kebudayaan yang tidak mengarah kepada kemajuan adab, dan persatuan, serta tidak mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia, sebaliknya justru merupakan kebudayaan yang menurunkan derajat kemanusiaan. Karena mengandung ajaran yang menghambur-hamburkan harta untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menghinakan manusia yang sudah meninggal dunia.
Dalam hal ini al Kamal Ibnu al Himam, salah satu ulama besar madzhab hanafi mengatakan : “ Sesungguhnya nash-nash syareat jauh lebih kuat daripada tradisi masyarakat, karena tradisi masyarakat bisa saja berupa kebatilan yang telah disepakati, seperti apa yang dilakukan sebagian masyarakat kita hari ini, yang mempunyai tradisi meletakkan lilin dan lampu-lampu di kuburan khusus pada malam- malam lebaran. Sedang nash syareat, setelah terbukti ke-autentikannya, maka tidak mungkin mengandung sebuah kebatilan. Dan karena tradisi, hanyalah mengikat masyarakat yang menyakininya, sedang nash syare’at mengikat manusia secara keseluruhan., maka nash jauh lebih kuat. Dan juga, karena tradisi dibolehkan melalui perantara nash, sebagaimana yang tersebut dalam hadits : “ apa yang dinyatakan oleh kaum muslimin baik, maka sesuatu itu baik “
Dari situ, jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Dr. Abdul Hadi WM, dosen di Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Jakarta, bahwa Islam tidak boleh memusuhi atau merombak kultur lokal, tapi harus memposisikannya sebagai ayat-ayat Tuhan di dunia ini atau fikih tidak memadai untuk memahami seni, adalah tidak benar. Wallahu a’lam 
source:http://ahmadzain.wordpress.com

0 KISAH TITANIC YANG SEBENARNYA

Titanic asli dan kisah yang sebenarnya. RMS Titanic dimiliki oleh White Star Line dan dibuat di galangan kapal Harland and Wolff. Titanic merupakan kapal uap penumpang terbesar di dunia pada masa peluncurannya.

Namun na'as pada saat pelayaran pertamanya, Titanic menabrak gunung es pada pukul 23:40 (waktu kapal), Minggu, 14 April 1912, dan tenggelam sekitar dua jam empat puluh menit kemudian pada pukul 2:20 pagi hari Senin, 15 April 1912.
Kapal Titanic

Tenggelamnya bencana tersebut mengakibatkan kematian lebih dari 1.500 orang, dan menjadikannya sebagai bencana laut terburuk semasa zaman dalam sejarah.

Kapal Titanic versi film

Itu sepenggal sejarah asli RMS Titanic. 85 tahun kemudian, sutradara kondang James Cameron menginspirasikan kisah nyata tenggelamnya Titanic dalam sebuah film.

Film ini dibintangi Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet. Film ini memenangkan 11 Academy Awards yang diselenggarakan pada tanggal 23 Maret 1998. Film ini juga berhasil menjadi film box office terbesar dalam sejarah perfilman.

Yang jadi pertanyaan adalah Apakah memang ada kisah Jack and Rose seperti dalam film itu? Jawabannya Tidak. Jack Dawson dan Rose DeWitt Bukater yang diperankan dalam film ini oleh Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet, hampir semuanya tokoh fiksi (James Cameron memodelkan tokoh Rose seperti artis Amerika Serikat, Beatrice Wood, yang tak punya hubungan apapun dengan sejarah Titanic).

Kisah Cinta ini karangan James Cameron. Selain Rose dan Jack, berbagai tokoh yang berkaitan dengan mereka juga fiksi. Termasuk tunangan Rose, Caledon ‘Cal’ Hockley (Billy Zane), ibunya Ruth (Frances Fisher), valet Cal, Spicer Lovejoy (David Warner), dan penumpang kelas tiga yaitu teman-teman Jack: Fabrizio (Danny Nucci) dan Tommy (Jason Barry).

Namun inilah orang-orang yang benar-benar ada dalam kisah dan juga dalam film yang mengharukan tersebut. (Kiri: Pemeran dalam film, Kanan: Orang yang sebenarnya)

1. Captain Edward James Smith
 Captain Edward James Smith lahir 27 Januari 1850 di Hanley, Stoke-on-Trent, Inggris. Meninggal: 15 April 1912, Samudera Atlantik (bencana Titanic).
Diperankan oleh Bernard Hill lahir 17 Desember 1944 di Manchester, Inggris, Britania Raya.



2. Molly Brown
Margaret “Molly” Brown lahir 18 Juli 1867 di Hannibal, Missouri. Meninggal: 26 Oktober 1932 Barbizon Hotel, New York City (tumor otak).
Diperankan oleh Kathy Bates lahir 28 Juni 1948 di Memphis, Tennessee, AS.

3. John Jacob Astor

John Jacob Astor lahir 13 Juli 1864 di Rhinebeck, New York. Meninggal: 15 April 1912 Samudera Atlantik (bencana Titanic).
Diperankan oleh Eric Braeden lahir 3 April 1941 di Kiel, Jerman.

4. Thomas Andrews

Thomas Andrews Born lahir 7 Februari 1873 di Comber, County Down, Irlandia. Meninggal: 15 April 1912 Samudera Atlantik (bencana Titanic).
Diperankan oleh Victor Garber lahir 16 Maret 1949 di London, Ontario, Kanada.

5. Bruce Ismay

Bruce Ismay lahir 12 Desember 1862 di Crosby, Merseyside, Inggris. Meninggal: 15 Oktober 1937 Liverpool, Inggris (cerebral thrombosis).
Diperankan oleh Jonathan Hyde lahir 21 Mei 1947 di Brisbane, Australia.

Surat kabar terkenal New York Times memberitakan peristiwa ini sehari setelah Titanic tenggelam. Tepatnya Selasa, 16 April 1912.

Dan inilah video kapal Titanic yang sebenarnya

0 MISTERI KURSI NOMOR 13 DI PESAWAT BATAVIA AIR

Meski sudah puluhan kali terbang saya jarang memperhatikan masalah ini. Hingga akhirnya sebuah tulisa di kompas.com mengulas tentang misteri kursi nomor 13 di Batavia Air. Monggo disimak, dan jangan lupa ini hanya sekedar opini.


Tahukah Anda, konon tidak ada kursi penumpang di pesawat terbang yang bernomor 13 di dunia ini? Meski banyak yang tidak percaya, namun tahyul di jagad raya ini mempercayai angka 13, dikaitkan dengan kejadian sial atau mengerikan.

Namun di Indonesia, pesawat Batavia Air dengan nomor penerbangan YG - 561 dari Jakarta tujuan Pekanbaru, hari Minggu (25/9/2011) petang, memberikan tiket penumpang bernomor 13A dan 13B kepada Nyonya Mardiana dan suaminya. Mulanya, Mardiana merasa heran, sebab setelah puluhan kali naik pesawat, baru kali ini dia mendapat kursi bernomor 13. Namun dia mendiamkan saja.

Keanehan mulai terjadi saat Mardiana dan suaminya naik ke pesawat. Ternyata kursi bernomor 13 memang tidak ada. Setelah kursi nomor 12, yang ada di deretan selanjutnya adalah kursi bernomor 14. Ketika disampaikan perihal nomor tiket itu kepada pramugari yang bernama Ira Maei, dia langsung terheran-heran.

"Tidak ada nomor 13 di pesawat ini, ada kesalahan, namun ibu dan bapak dapat duduk di kursi nomor 14A dan 14B ini saja dahulu," kata Ira menenangkan.

Tidak lama kemudian, muncul seorang pria tinggi besar yang menyebutkan dia memiliki tiket bernomor 14 A dan seorang penumpang lain yang belakangan diketahui bernama Rizal, pegawai Kantor Bea dan Cukai Riau yang memegang tiket bernomor 14B.

Masalah mulai muncul, dan pramugari Hindri Astutik dan Juni Cahyati mulai terlihat kasak kusuk memanggil petugas darat untuk membantu menyelesaikan persoalan. Setelah beberapa lama, seluruh penumpang telah naik ke pesawat. Ternyata, ada tersisa dua kursi yang belum diduduki penumpang. Akhirnya pramugari mengarahkan Rizal untuk duduk di kursi bernomor 2B dan pria bertubuh tinggi besar di kursi 11E yang kosong. Pesawat berkapasitas 168 orang itu penuh total. Tidak ada lagi kursi tersisa.

Namun akibat insiden kursi bernomor 13A dan 13B, jadwal pesawat yang semestinya tebang pukul 16.50, pintu pesawat baru dapat ditutup pada pukul 17.10 dan terbang pukul 17.30. Tidak ada kejadian apapun sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Pekanbaru, cuaca cukup bagus.

Hanya saja sesaat sebelum mendarat, tubuh pesawat bergoyang, oleng ke kiri dan ke kanan, tidak stabil, sehingga membuat penumpang cukup cemas. Untungnya, Kapten Pilot Hendra Sutrisno mampu mendaratkan pesawat dengan baik. Ketika mendarat, bahkan ada penumpang yang bertepuk tangan.

Sebelum turun dari pesawat, Mardiana dan suaminya masih penasaran, mengapa mereka diberi nomor kursi 13 A dan 13B. Pramugari Juni Cahyati mengatakan, masalah itu disebabkan petugas darat Batavia, mungkin tidak mengecek bahwa pesawat Batavia yang satu ini, tidak memiliki kursi bernomor 13.

"Memangnya ada pesawat yang bernomor kursi 13?" tanya suami Ny Mardiana. Juni mengungkapkan, ada satu pesawat Batavia di Indonesia, yang memiliki nomor kursi 13. Kalau pernyataan Juni diasumsikan benar, mengapa hanya Ny Mardiana dan suaminya yang mendapat nomor kursi 13?

Bukankah kalau penumpang penuh, semestinya, ada empat penumpang lain yang memegang tiket bernomor 13C, 13D, 13E dan 13F? Belum ada jawaban misteri kursi bernomor 13A dan 13B itu, kecuali pihak Batavia mau jujur membukanya kepada publik.

Atau, jangan-jangan petugas darat Batavia Air memang tidak profesional. Contoh ketidakprofesional lainnya, sebelum masuk ke pesawat, penumpang Batavia yang berada di ruang tunggu C7 tujuan Pekanbaru harus masuk ke pesawat melewati pintu C5, sementara pada saat bersamaan, penumpang yang berada di ruang tunggu C5 tujuan Batam dipindahkan ke jalur C7.

Koridor bandara akhirnya kacau penuh sesak, penumpang dari dua arah berlawanan bersinggungan karena hendak bergegas naik ke pesawat.

search

YANG NYASAR DI BLOG