Pages

Senin, 01 Agustus 2011

0 Pidato Nabi Muhammad SAW Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Wahai umat manusia Bulan Ramadhan telah mengunjungi kamu, bulan penuh keberkahan suatu bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih berharga dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa suatu kewajiban sedangkan mengisi malam-malamnya dengan kebajikan-kebajikan dan pengabdian merupakan thathawwu’ (amalan-amalan sunat) yang amat bernilai. (HR. Ibnu Khuzaimah).
Pidato ringkas di atas diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci ramadhan yang dinanti-nantikan, tidak hanya umat Islam, umat-umat lainpun barangkali ikut serta menantikan kedatangannya. Oleh sebab itu setiap kali datangnya bulan yang penuh berkah itu, Nabi Muhammad kembali berpidato mengingatkan dengan mengawali seruannya : Wahai manusia.
Ada hal yang menarik dari kandungan pidato yang diucapkan Nabi Muhammad SAW 14 abad silam, antara lain :
Seruan datangnya bulan suci Ramadhan tidak hanya tertuju kepada umat Islam, akan tetapi kepada semua manusia, meskipun kewajiban puasa hanya berlaku untuk umat Islam. Lihatlah perintah wajib puasa yang akrab terdengar pada awal ayat 183 surat al-Baqarah: Wahai orang-orang beriman, diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa.
Kuat dugaan bahwa seruan itu mengindikasikan suatu pesan yang mendalam, bahwa manfaat bulan Ramadhan tidak terbatas hanya untuk umat Islam belaka.
Dengan kata lain, bulan suci Ramadhan memiliki dua fungsi penting, pertama fungsi ibadah dan yang kedua fungsi sosial. Fungsi ibadah Ramadhan, jelas dengan masuknya bulan suci Ramadhan kerohanian dan ketaatan melaksanakan perintah Allah semakin meningkat, minimal bagi yang tidak pernah atau jarang ke Masjid akan terpanggil nuraninya untuk datang ke Masjid, karena bulan Ramadhan daya tarik untuk meramaikan Masjid sangat dirasakan.
Adapun fungsi sosial, silaturrahim antara sesama umat Islam, hablumminannas(interaksi antar sesama umat beragama) dapat terjalin melalui kegiatan ekonomi. Hal itu dapat dilihat dengan semakin meningkatknya kebutuhan sandang pangan dan transportasi pada bulan Ramadhan dan menjelang lebaran, dan menuntut sirkulasi keuangan yang meningkat, pada gilirannya ekonomi masyarakat kecil, para pedagang, dan bisnisman pada semua level akan merasakan manfaat datangnya bulan suci Ramadhan.
Lebih jauh dari itu, pesan yang diambil dari pidato singkat Nabi Muhammad SAW adalah persiapan batin, meliputi ilmu pengetahuan tentang puasa, filosofis dan hikmah puasa terlebih-lebih kesiapan dan ketetapan hati menerima perintah Allah SWT, karena berlapang dada menerima perintah Allah SWT merupakan pintu hidayah untuk memutar “jamuan hati” mengarah kepada perbaikan diri.
Allah SWT berfirman : Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya[503], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al-an’am : 125)
Berlapang dada menerima dan melaksanakan ibadah puasa dapat diwujudkan dalam bentuk kesiapan mengurangi aktivitas duniawi yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa, meskipun dengan mengurangi aktivitasnya akan berdampak mengurangi penghasilan usahanya.
Katakanlah seorang pengusaha rumah makan muslim, yang biasanya melayani makan siang hari, berlapang dada untuk menggeser jam kerjanya di malam hari, demi menghormati orang berpuasa, demikian pula warung kopi, apalagi tempat-tempat diskotik, jika berlapang dada menerima kedatangan bulan suci Ramadhan, dapat dipastikan secara sukarela mereka akan legowo menggeser atau menutup usahanya tanpa memerlukan surat perintah dari pemerintah setempat.
Karena salah satu kiat untuk mendapat keberkahan adalah berlapang dada menerima apa adanya dan mengoptimalkannya semaksimal mungkin. Contohnya seseorang diberikan ilmu pengetahuan agama yang cukup untuk dirinya sendiri belum bisa mengajarkan dan mengembangkannya kepada orang lain, akan tetapi dioptimalkan pengamalannya, maka keberkahan ilmu pengetahuan yang sedikit itu akan dirasakan manfaatnya. Demikianlah yang dimaksud dengan “keberkahan”, yaitu banyak kebaikan, meskipun sedikit materinya.
Dalam kaitannya dengan pidato Nabi Muhammad SAW, mengingatkan kepada semua umat manusia bahwa Bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah. Keberkahannya dirasakan oleh semua umat manusia tanpa kecuali, meskipun dalam waktu yang singkat (1 bulan) namun kebaikannya akan dirasakan seperti satu tahun, seperti sabda Nabi SAW yang dicantumkan di dalam kitab Shaih Ibnu Khuzaimah : Seandainya umatku mengetahui pada ibadah bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar satu tahun menjadi Ramadhan semua. Terlepas dari kritikan-kritikan pakar hadis terhadap kesahihan hadis ini.
Pesan lain yang diambil dari pidato Nabi Muhammad SAW adalah mengisi peluang yang amat berharga, sebab dari semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari sepanjang tahun, hanya 30 atau 29 hari Ramadhan, pahala amal ibadah dilipatgandakan Allah SWT.
Waktu yang amat berharga tersebut jangan sampai berlalu tanpa menorehkan amal ibadah yang bermanfaat untuk menjadi perbekalan di akhirat. Perbekalan yang paling baik adalah ketaqwaan sesuai target yang akan dicapai di dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Apatah lagi kesempatan hidup bagi umatnya tidak seperti umat-umat terdahulu bisa mencapai 1000 tahun atau ratusan tahun.
Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW senantiasa mengingatkan umatnya akan pentingnya arti waktu terutama bulan suci Ramadhan, karena waktu menurut pandangan Islam merupakan “ruh” dari manusia itu sendiri. Sejalan dengan itu, Allah SWT berulang kali bersumpah atas nama waktu di dalam Alquran “Demi waktu Duha”, “Demi waktu Fajar”, “Demi waktu Asar”, “Demi waktu siang dan malam”, dan seterusnya.
Kesimpulannya, pesan dari pidato ringkas Nabi Muhammas SAW menyambut detik-detik datangnya bulan suci Ramadhan, agar umat Islam mempersiapkan diri secara lahir dan batin, dan berlapang dada menerima perintah puasa dan mengoptimalkan kemampuan beramal serta menggunakan peluang yang amat berharga, karena kesempatan itu tidak datang dua kali. Wallahua’lam bil ash-shawab ***** (H.M. Nasir, Lc., MA : Penulis :Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batu Bara,Direktur PT. Gadika, Umroh dan Haji Plus,Ketua Majelis Ta’lim & Zikir Ulul Albab Sumut )

search

Memuat...

YANG NYASAR DI BLOG